Monday, October 24, 2016

Puisi Hujan

Puisi hujan itu, kutulis ulang
Dengan tinta pelangi
Yang mungkin tak kau mengerti

Warnanya membutakan mata
Bacalah perlahan, jangan tergesa-gesa
Pilihlah warna yang sekiranya kau suka

Puisi hujan bukan tentang cinta
Tapi lebih tentang kehidupan
Yang aku sendiri tak begitu paham

Puisi hujan itu, kutulis lagi
Agar kau bisa mendengarkan rintiknya
Perhatikan, bagaimana dia memecah sunyi

Tetes demi tetes airnya menghujam
Membangunkan bumi
Yang aku sendiri mengira dia tlah mati

Ah...senangnya
Seandainya kau basahi hatiku juga
Mungkin tidak akan sampai sekeras ini

Puisi hujan, puisi kehidupan
Darinya semua yang kering hitam
Tampak hijau menyenangkan

Hujan turunlah...
Tetaplah turun...
Dan ceritakan tentang segala isi hati

Agar aku tahu
Apakah tetesanmu adalah tangis kesedihan
Atau ungkapan kegembiraan yang sengaja kau bagi

Puisi hujan kan ku baca berulang
Agar aku paham
Rahasia apa yang kau simpan

Friday, October 21, 2016

Bertahan dalam hilang

Mengembalikan semangat
Begitulah yang seharusnya
Aku mulai tenggelam
Dalam kekosongan
Ditinggalkannya...
Tak ada daya, tanpa upaya

Menyelami lautan dalam
Tanpa persiapan
Hanya tekat yang kubawa
Aku tenggelam dikedalaman
Tak ada cahaya,
Walau secercah

Tapi aku pasrah
Bahkan terlalu...
Kubiarkan ragaku lebih hanyut kedalam
Karena untuk kembali kepermukaan
Rasanya sia-sia
Dan itupun bukan keinginan

Kubiarkan hilang
Kedalam...jauh kedalam
Permukaan itu semakin kelam
Binar cahayanya meredup
Aku tenggelam,
Dan hanya ada hitam

Egoku kutenggelamkan bersama raga ini
Takkan kulawan,
Tenggelam...dan semakin kedalam
Bahkan semangat untuk melawan
Hilang...
Semakin jauh, aku rasa

Dasar lautan itu seperti tak ada
Kakiku entah kapan menapaknya
Dan aku sudah tak bisa lagi ditemukan
Tak ada yang akan berani menyelam
Dikedalaman...tanpa temaram
Aku hilang

Mengembalikan semangat
Tidaklah mudah...
Harus kutemukan pijakan
Untuk kakiku, yang telah beku
Tak lagi ada...kurasa
Mungkin telah menyatu dengan dinginnya laut
Dan pekatnya hitam
Aku benar-benar hilang

Mengembalikan semangat
Begitulah yang seharusnya
Entah bagaimana
Tetap harus kutemukan
Karena hanya dengan itu
Aku bisa bertahan, dalam hilang


Friday, October 14, 2016

Tetaplah menari

Seperti kupu-kupu itu, terbang tak tentu arah
Menari-nari dalam naungan mentari
Terbang bebas,
Karena dia telah terlepas
Terlepas dari belenggu...
Yang menawan kalbu

Menarilah wahai bidadari
Menarilah...seperti kupu-kupu itu
Terbang tinggi...
Terbanglah kemana saja kau suka
Terbanglah walau tak lama
Untuk kemudian, kembali berubah warna

Wahai bidadari...
Menarilah diatas kalutnya logika
Ke alam mimpi, ke alam ada yang tiada
Terbanglah tinggi ke angkasa
Jelajahilah jagat raya
Lihatlah...betapa kecil dunia
Dan bukankah kau pernah melihatnya?

Wahai bidadari,
Jangan memutuskan untuk menetap disini
Dunia ini terlalu sempit untuk kau tempati
Kepakkanlah sayap, dan bawalah hatimu
Terbanglah ke segala penjuru
Agar kau tahu, arah yang kau tuju

Wahai bidadari...
Tetaplah menari...
Atau mungkin menari itu terlalu menyita waktu?
Kau terlihat begitu lesu dan tak bertenaga
Antara putus asa dan mulai tak percaya...
Ataukah kau mulai merasa...
Menari-nari membuatmu seperti orang gila
Membuang-buang waktu saja!

Wahai bidadari...
Hilangkanlah semua prasangka
Tak ada yang bisa diharapkan
Untuk hidup yang sebentar
Kekawatiran bukanlah kenyataan
Lepaskanlah dia dari kalbu
Terbang dan tetaplah menari
Seperti kupu-kupu itu
Tahu kapan waktu harus berhenti

Thursday, October 6, 2016

Menunggu itu membosankan

Mereka-reka kehidupan
Yang ku kira hanya sebentar
Kupuaskan hasrat dunia
Kumanjakan keinginan

Sebenarnya...Perjalanan itu masih panjang
Tapi aku menyangkanya tlah sampai di tujuan
Kubangun Istana, dari sarang laba-laba
Dan mereka pun melihatnya nyaris sempurna

Aku berhenti dititik ini
Karena tujuan itu tak lagi kucari
Teralihkan kenyamanan
Cukuplah untukku hidup
Seperti kebanyakan orang

Tak terpikirkan olehku hati
Tempat dimana tujuan perjalanan telah terpatri
Tapi dengan sepihak kuputuskan berhenti...
Memaksanya diam,
dan akhirnya mati...

Kemudian engkau datang
Memberi secuil pemahaman
Bahwa perjalanan itu, harus tetap ku lanjutkan
Karena didunia ini hanyalah seperti siang
Atau seperti berada pada malam
Hidup yang sebentar,
bila engkau membandingkan

Kau suruh aku terus berjalan
Menghiraukan semua kenyamanan
Hidupkanlah hati...agar kau tahu,
Apa yang sebenarnya kau cari

Jangan berhenti, kau bilang...
Dunia ini hanyalah permainan
Bermain-mainlah sebentar...
Karena dimasa menunggu itu,
Akan sangat membosankan...

Tak pernah sedikitpun terpikir olehku
Akan adanya masa menunggu
Kukira didunia inilah masa itu
Ternyata  disini...
Hanyalah tempat mencari
Jangan berhenti...
Janganlah berhenti...

Kutanyakan lagi, tentang masa itu
Kutanyakan padanya,
Tentang masa menunggu
Dia bilang, masa menunggu lebih lama dari hidupmu...
Awal dan akhirnya dirahasiakan
Dan tak ada sedikitpun
yang bisa engkau bayangkan

Pernahkah terpikirkan olehmu
Ayah, kakek dan leluhurmu
Atau orang-orang yang telah lebih dulu pergi ke masa itu
Tidak mudah menjadi mereka
Didunia umur mereka tak seberapa
Dibandingkan dengan hidup didalam penantian
Hidup didalam masa menunggu
Bisa jadi membosankan

Apakah mereka senang?
Adakah mereka kembali kepadamu
Dan bercerita apa yang dialaminya disana?
Tidak, kita hanya bisa membayangkan dan menduga-duga
Bahwa mereka baik-baik saja...

Hidupkanlah hati
Hidupkanlah hati...
Disepertiga malam terakhir
Disitulah tempat mencari
Duduklah tenang, dan ingat-ingatlah
Ingatlah Dia, yang sejak awal menjadi tujuan
Agar dimasa menunggu itu
Tidak terlalu membosankan