Thursday, October 29, 2020

Sang Utusan

Cahaya yang melingkar itu tiba - tiba keluar
Dari atas langit, pada malam yang dimuliakan
Begitu terang sejauh mata memandang
Di tengah kerumunan manusia yang duduk bersila
Yang sedang mengingat - ingat nama Tuhannya

Dalam keheningan itu ada suara yang berkata
Dan Kami turunkan utusan di setiap jaman
Begitulah suara yang terdengar
Dari dalam cahaya, yang menggetarkan jiwa
Beberapa kali, hingga gelisah kami menanti

Tak lama berselang, turunlah sesosok manusia
Dari dalam lingkaran cahaya itu dia datang
Turun perlahan, begitu berwibawa dan tenang
Seorang utusan, sosok yang kami kenal
Betapa beruntungnya kami, 
itulah yang pertama terbersit didalam hati

Seandainya jaman kenabian itu belum berakhir
Tentu engkau akan menjadi salah satunya
Tapi kami meyakini kedudukanmu lebih tinggi
Yang bahkan membuat para nabi dan syuhada iri
Karena begitulah yang tertuang dalam kitab para nabi

Begitu dekatnya kami kepada utusan yang mulia
Mengapa selama ini kami tidak menyadarinya
Siapakah kami ini, sehingga layak menerima karunia
Karunia yang besar, yang tak pernah terbayangkan
Bisa berdekatan denganmu dan bahkan menuntut ilmu

Siapakah kami ini....
Diantara berjuta manusia dibumi yang luas
Mengapa engkau diturunkan ditengah-tengah kami,
yang hanyalah manusia-manusia pemalas
Manusia-manusia hina yang selalu mengotori hati
Karena kebodohan kami, yang tak pernah mau mengerti

Wahai utusan yang mulia
Rasa syukur yang besar kami panjatkan
Kepada Tuhan pemilik segala keagungan
Karena engkau telah diturunkan kedunia
Membawa cahaya penerang
Untuk kami yang hampir berputus asa

Engkau perlihatkan gambaran siksa yang begitu jelas
Bahkan dosa yang tak lagi kami ingatpun dibalas
Walaupun dosa yang sebesar biji sawi, 
kami tak akan dapat bersembunyi
Lalu kemana lagi kami akan melarikan diri

Lihatlah begitu sombongnya kami ini
Mencatat setiap amal kebaikan
lalu mengingat-ingatnya didalam dada
Seakan-akan menganggap Tuhan itu pelupa
Apakah pantas kami disebut orang-orang yang percaya

Wahai sang utusan akhir zaman
Jangan pernah bosan memberi kami pemahaman
Tentang arti sebuah perjalanan,
Bagaimana seharusnya kami mengabdi 
Dan merendahkan diri bahkan menghamba
Dihadapan Tuhan sang maha pencipta

Yang selama ini kami lakukan 
Hanyalah mengikuti anjuran, bimbingan bahkan tuntunan
Tak pernah kami melibatkan hati 
Sehingga rasa tulus ikhlas itu, tidak pernah ada
Kami melakukan sebatas apa yang diwajibkan
Dan kami rasa, bukan atas dasar keimanan

Untuk percaya dan yakin, 
Tak semudah yang kami pikir
Tak cukup hanya dengan melontarkan kata-kata
Dan kami pun selalu menuntut bukti, lagi dan lagi
Seakan tak sadar bahwa kami ini hanyalah hamba
Apakah pantas hamba menuntut Rajanya

Seorang hamba sudah selayaknya mengabdi
Merendahkan diri dihadapan Sang Maha Tinggi
Untuk mendapatkan ampunan 
Seharusnya hanya itu yang kami kejar
Bukan menuntut imbalan 
untuk semua yang telah kami lakukan

Seorang hamba sudah sepantasnya menerima
Semua yang diberikan, dengan penuh kerelaan
Baik atau buruk perjalanan ini, tak akan jadi masalah
Seorang hamba hanya berhak pasrah
Mengabdi dengan sepenuh hati
Menghamba dengan merendahkan diri

Wahai utusan yang mulia
Maafkanlah kami yang berjalan begitu lambat
Setiap pemahaman yang kau berikan
Tak dapat dengan cepat kami serap
Karena kebodohan yang kami punya
Bahkan karena kesombongan yang masih ada di dada

Kadang terbersit dihati untuk menyerah saja
Begitu malunya kami yang tak kunjung mengerti
Tentang arti penghambaan yang sejati
Mempermalukanmu dihadapan Tuhan juga menjadi beban
Karena pastinya engkau akan dimintai pertanggung jawaban
Lalu apa yang akan engkau sampaikan

Kesabaranmu benar-benar diluar nalar manusia
Memperbaiki jiwa-jiwa yang sudah tak berharga
Jiwa yang sekiranya matipun tak akan ada yang perduli
Tapi engkau dengan sabar merawat setiap luka
Sedikit demi sedikit, kau rubah jiwa itu laksana mutiara
Kami ini siapa, wahai utusan yang mulia
Kami ini siapa....

Kesabaranmu membimbing kami
Dan ketulusanmu mengajari, 
sudah cukup menjadi bukti
Terimalah sembah sujud kami, 
untuk setiap pemahaman yang engkau beri
Semoga kami benar-benar bisa memahami
Dan menjalani kehidupan atas dasar keimanan
Sehingga tak lagi mempermalukanmu
Dihadapan Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang

Sunday, October 25, 2020

Antara Cinta dan Kepalsuan

Kadang aku sempat merenung didalam hati
Semua pemahaman itu telah aku mengerti
Setiap apa yang sudah dijelaskan 
aku pun mengingatnya di dalam dada
Dan rasa percaya itu pun telah ada

Tapi, yang tak pernah aku pahami
Mengapa, masih saja 
aku melakukan hal-hal yang tercela
Yang aku rasa kurang pantas, 
bahkan melampaui batas

Seringkali aku meremehkan waktu, 
membiarkannya saja berlalu
Bahkan saat menghamba, 
seenak-enak hatiku saja

Lalu kemana semua pemahaman itu pergi
Kemana keyakinan itu hilang
Secepat itu semua ingatan tentangMu 
tak lagi menetap dikalbu

Aku tak pernah habis pikir
Memikirkannya pun aku tak mampu
Apakah selama ini aku benar-benar mencintaiMu
Ataukah hanya berpura-pura cinta saja

Karena kerinduanku padaMu 
tak pernah sampai kedada
Selama ini yang kupersembahkan, 
mungkin hanyalah kepalsuan
Karena masih saja aku mendua, 
Dan mencintai yang lainnya

Sedangkan yang aku tau...
Engkau mengasihiku dengan sempurna
Semua yang aku minta, 
Kau kabulkan dengan segera
Walaupun bukan seperti yang kuingini
Tapi aku yakin, Engkau menggantinya 
dengan sesuatu yang lebih berarti

Mungkin, ada rahasia yang masih kusimpan
Dan tidaklah mudah untuk dapat kuungkapkan
Batasnya tipis sekali, aku tak mampu membedakan
antara ketulusan atau berpura-pura tulus
Karena aku harus menyelam lebih dalam untuk mencari
Hanya untuk dapat mencapai kesadaran diri

Aku merasa bahwa bukan Engkaulah
yang selama ini menjadi tujuan
Tapi yang sebenarnya aku lakukan adalah
memanfaatkanMu untuk mencapai 
apa yang menjadi keinginan

Rasa terima kasih hanya sebatas kata
Tak sampai membekas didada
Tak pernah kubawa saat aku menghadap
hanya sekedar kuucap, untuk kemudian lenyap

Bila ini melupakanMu tanpa sengaja, aku rasa bukan
Karena setiap pemahaman itu, aku mengaku tau
Tapi berpura-pura lupa padaMu, 
itulah yang sebenarnya aku lakukan

Sudah ada niatan didalam hati
Untuk melupakanMu barang sehari
Untuk sekedar menuruti keinginan, 
yang telah sesak memenuhi angan
Tapi karena rasa itu begitu nyaman
MelupakanMu dikemudian, bahkan terasa ringan

Tuhan...
mungkin memang aku tak punya malu
Menghadapkan wajahku 
yang penuh kepalsuan kepadaMu
Sedangkan Engkau adalah 
Sang maha tahu segala isi hati
Lalu bagaimana aku bisa bersembunyi

Tetapi tetap saja aku selalu beralasan, 
Hanya untuk sekedar membela diri
Menutupi rasa maluku, karena harga diriku yang tinggi
Seandainya Engkau buka aibku dihadapan manusia
Dan Kau hukum aku seketika itu juga, aku bisa apa
Karena Engkaulah yang maha berkuasa

Tak seperti apa yang dikata para pujangga
Cinta bukan hanyalah sekedar kata-kata
Tapi cinta adalah pengorbanan
Dan cinta itupun bisa membuatmu buta
Buta untuk melihat keindahan yang lainnya

Tapi...kenapa semua itu tidak berlaku
Berlaku untuk cintaku padaMu
Tak ada yang namanya rindu yang menggebu-gebu
Atau rasa senang saat bertemu
Pengorbanankupun sebatas yang kutentukan
Apakah ini yang namanya cinta
Atau kah hanya berpura-pura cinta belaka

Selama ini Engkau tak pernah kuletakkan 
Diurutan pertama dalam aku mengabdi
Mungkin itu yang selalu membuatku lupa diri
Ada cinta yang lain, yang lebih penting
Untuk hanya sekedar mengejar ingin
Antara cinta dan kepalsuan
Aku bahkan tak dapat membedakan

Kini aku telah memahaminya
Mengapa Engkau tak pernah menetap lama
Selalu menghilang saat aku menuruti keinginan
Karena aku tidak pernah menjadikanmu 
yang nomer satu, dihatiku

Cinta kepadaMu hanyalah bualan, 
ada yang lain yang ingin kukejar
Seakan-akan Engkaulah tujuan
Tapi sebenarnya bukan

Wahai diri....
Yang pertama harus kau temukan adalah
rasa cinta yang sejati
Karena kerinduan tercipta darinya
Yang akan menggerakkan hatimu
Untuk ingin selalu bertemu
Sehingga ada rasa senang 
untuk setiap apa yang kau lakukan
Seberat apapun beban akan kau rasa ringan
Apa-apa yang membuatNya tak senang, 
Takkan kau lakukan
Yang akan menjadi tujuan utama hidupmu adalah menyenangkanNya
Itulah cinta, carilah rasa itu didalam dada
Dan temukan kekuatannya yang luar biasa

Monday, October 19, 2020

Tafsir Kehidupan

Membaca tafsir kehidupan
Yang kau baca hanya sebentar, lalu bosan
Kau puaskan hasrat dunia, kau manjakan keinginan
Sebenarnya, perjalanan ini masih panjang
Tapi engkau menyangkanya telah sampai di tujuan

Selama ini kau kira dunialah tujuan itu
Sehingga kau putuskan berhenti, 
Karena tujuan itu tak lagi kau cari
Teralihkan kenyamanan, cukuplah untukmu hidup
Seperti kebanyakan orang
Kau bangun Istana, dari sarang laba-laba
Dan engkau pun melihatnya nyaris sempurna

Dunia ini tak ubahnya fatamorgana
Dari kejauhan dia yang tampak indah mempesona
Sebenarnya hanya tipuan belaka
Bila kau coba mengejar dan mendekat padanya
Dia akan hilang, layaknya bayang-bayang

Seperti itulah dunia, 
engkau perlu tau sifat-sifatnya
Memang kenikmatan dan keindahannya begitu nyata
Bagaimana tidak terpesona, 
Bila keindahan itu benar-benar terasa, sampai kedada

Tapi bukankah itu percuma bila semua akan lenyap 
Seakan-akan dunia ini hanya sekejap
Seperti mimpi yang hilang saat engkau tersadar
Tinggal didalamnya hanyalah sebentar
Seperti siang atau seperti malam
Waktu yang tak lama bila engkau membandingkan

Cobalah bandingkan dengan masa menunggu
Bukankah masa itu lebih lama dari hidupmu
Hidupmu didunia yang tak seberapa
Dibanding hidup didalam masa penantian
Pernahkah engkau benar-benar memikirkan
Pikirkan tentang orang-orang sebelum mu
Bukankah sampai sekarang mereka masih menunggu

Begitu seringnya engkau mendapatkan pemahaman
Bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan
Mengapa engkau masih saja berpaling
Menganggap dunia inilah yang paling penting
Kau masih saja mengejarnya mati-matian
kenikmatan yang tak seberapa
Yang bahkan tak dapat dibandingkan
Dengan kenikmatan di kampung halaman

Pernahkah engkau melihat kampung halaman itu
Tempat yang seharusnya menjadi tujuan hidupmu
Disana ada nikmat yang tak terbayangkan
Dan bahkan derita yang tak terkira
Dunia ini hanyalah tempatmu menentukan pilihan
Dan menguji seberapa besar dirimu meyakini
Bahwa sebenarnya masih ada tempat kembali

Tapi engkau tak akan dapat melihatnya
Hanya dengan mengandalkan apa yang dapat kau raba
Lihatlah kampung halaman itu dengan keimanan
Agar kekawatiranmu akan dunia ini hilang
Sehingga perjalananmu pulang 
tak tergoyahkan angan

Tafsir kehidupan ini begitu tebal
Takkan cukup seumur hidupmu untuk membacanya
Karena pohon-pohon telah menjadi pena
Dan lautan menjadi tinta
Bahkan itu saja masih kurang aku rasa

Untuk membacanya, 
Yang kau butuhkan adalah  pemahaman
Maka dari itu, berburu pemahaman itu perlu
Untuk dapat sampai ke tempat yang kau tuju
Agar engkau tidak tersesat dan berhenti terlalu lama
Dalam perjalananmu menuju kesana
Dan berjalan beriringan, setidaknya menyenangkan

Dalam tafsir kehidupan ini dunia ada di awal cerita
Bila tak kau lanjutkan membaca, 
Mungkin kau takkan tau pertengahan bahkan akhirnya
Sebenarnya ada hikmah yang harus kau cari
Dalam mengarungi lautan kehidupan ini

Dalam setiap  lembaran-lembaran kehidupan itu 
Ada jawaban untuk mereka yang mencari tau
Bagaimana cara menghadapi gelombang saat menerjang
Bagaimana cara bertahan, dan bahkan mengajarimu
bagaimana cara berterima kasih
Agar engkau tidak menjadi orang yang tersisih

Bisa jadi dalam perjalananmu
Akan kau temukan lembaran-lembaran rahasia
Yang tidak setiap orang diperbolehkan untuk membacanya
Tapi itu semua tergantung, bagaimana engkau mencari

Maka bacalah perlahan, setiap lembaran kehidupan
Jangan tergesa-gesa, aku takut engkau akan terlupa
Biarlah setiap pemahaman yang kau terima 
diserap oleh jiwa, agar jiwa itu tetap tenang, 
Sampai tiba waktunya berpulang, ke kampung halaman

Mengingat kampung halaman tidaklah mudah
Tapi jangan lalu kau jadikan alasan untuk menyerah
Bisa jadi akhir cerita kehidupanmu menyedihkan, 
Atau bisa pula akhir yang menyenangkan
Maka cepat-cepatlah engkau tentukan disini
Tentukan akhir cerita kehidupanmu sendiri
Tentukanlah di dunia ini...

Tanamkanlah semangat dan keyakinan
Jadikanlah bahan bakarnya untuk terus maju
Setiap pemahaman, jangan pernah engkau buang
Agar penafsiranmu tidak keliru
Jadikanlah pegangan, bila engkau tersesat
Dan jangan bilang ini semua sudah terlambat
Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

Yang Lebih Dulu Tau

Siapakah yang lebih tau, 
dari pada yang lebih dulu tau
Apakah bodoh itu bisa disandang 
Mereka-mereka yang masih ingin belajar
Ataukah sepantasnya disandang 
mereka-mereka yang merasa pintar
Sehingga menjadi malas dan berhenti berjalan
Atau mungkin, disandang oleh mereka yang percaya
Tapi tidak berprilaku layaknya orang-orang yang percaya

Bagaimana mungkin akan paham
Jika tak pernah kau renungkan
Tentang diri dan lebih jauh kedalam
Bertumpu pada akal, 
takkan kau temukan jalan keluar
Lebih banyak yang engkau tidak tau
Dari pada yang tau
Maka berpura-pura taulah saja
Untuk sekedar meredam keherananmu

Berfikir tentang Tuhan,
dan saling menyalahkan
Merasa diri yang paling benar
Padahal Tuhan tidak bisa dijangkau,
hanya dengan mengandalkan akal pikiran
Jangkaulah Dia dengan keyakinan dan ketakwaan
Sungguh lucu manusia itu...
Mengenal dirinya sendiri saja belum bisa
Bagaimana akan mengenal Tuhannya

Mengenal diri adalah kunci
Untuk menuju kesejatian yang abadi
Jangan ada rahasia jika ingin mendekat padaNya
Karena Tuhan tak akan memasuki hati yang penuh luka
Luka perjalanan yang kau biarkan terlalu lama
Membuat hatimu membusuk
Dan pada akhirnya akan binasa

Penyebab luka itu kau perlu tau
Penyakit hati yang telah lama menggerogoti kalbu
Sombong, kikir, tamak, iri bahkan dengki
Penyakit-penyakit hati itu yang selalu bersembuyi
Yang selama ini kau tampakkan pada dirimu
Hanyalah kebaikanmu saja
Tapi sifat burukmu itu, 
apakah kau pernah mengakuinya

Ilmu ini begitu luas
Jadi jangan pernah merasa puas
Raihlah semuanya jika kau mampu
Tapi lihatlah dulu, pada apa engkau bertumpu
Bertumpu pada akal adalah kesia-siaan
Apakah selama ini engkau tak pernah mengerti
Yang dapat menampungnya hanyalah hati
Tapi bagaimana bisa, bila hati itu penuh luka
Mungkin itulah sebabnya
Setiap pemahaman yang diberikan
tak dapat dengan mudah kau terima
Bahkan hilang dari ingatan, 
seakan tidak pernah ada

Mengetahui penyakit hati adalah obat
Karena aku yakin tidak ada kata terlambat
Penyakit hati adalah rahasia yang tersimpan di dalam
Bila tak kau keluarkan, 
Maka sulit bila kau ingin temukan terang
Karena mereka harus terlebih dulu menyadarinya
Bahwa penyakit itu memang ada didada
Atau perjalananmu selama ini akan sia-sia
Karena hanya hatilah yang akan kau bawa bersua
Secuil kata ini semoga dapat memberi arti
Bagi mereka yang ingin mendekatkan diri
Karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Suci
Maka cepat-cepatlah kau rawat setiap luka
Agar engkau layak dipandang olehNya

Friday, October 16, 2020

Cobalah Masuk Kedalam

Agama itu Ibarat sebuah istana, 
Bangunan kemuliaan bagi manusia
Yang selama ini aku lakukan
Hanya mengagumi dari luarnya saja
Istana itu dibangun atas dasar perintah dan larangan
Dengan imbalan surga, 
dan neraka sebagai ancaman

Sebenarnya tujuannya sederhana
Hanya untuk menertibkan manusia
Agar setiap keinginan tak saling berbenturan
Bersama-sama dalam mengabdi, 
Memuji Sang Maha Suci
Begitulah yang membuat istana itu begitu kuat
Karena yang menjadi tiang-tiangnya adalah sholat
Dan ibadah yang lainnya 
Sebagai penyempurna bangunannya

Memandang Istana itu dari luar
Bagiku masih ada yang kurang
Aku harus masuk kedalam, 
untuk dapat menemukan jawaban
Ingin kutanyakan mengapa
Untuk setiap pertanyaan yang tercipta
Masuk kedalam istana adalah suatu keinginan
Memandang untuk lebih mengerti
Sudut pandang yang berbeda 
dengan yang selama ini aku yakini

Untuk memasukinya harus kutemukan jalan
Jalan yang biasa dilalui orang-orang yang mencari
Yang dibutuhkan adalah ketulusan hati
Karena didalam istana, ada tata cara tersendiri
Tidak setiap orang bisa masuk
Untuk memasukinya dibutuhkan hati yang kusyuk
Ukurannya bukan lagi halal atau haram
Tapi lebih kepada seberapa pantas dirimu untuk dipandang

Memantaskan diri dihadapan Tuhan apakah bisa
Bila tidak ada seseorang yang mengajarinya
Seorang yang mengetahui semua rahasia didalam
Yang mampu mengajarimu, 
Bagaimana seharusnya engkau berlaku
Bersyukurlah karena telah diturunkan seorang utusan
Karena Tuhan berkehendak membuka rahasia
Hanya bagi mereka-mereka yang menginginkannya

Wahai manusia,
Belajarlah dengan sungguh-sungguh
Karena kesempatan ini tidak setiap saat ada
Menyia-nyiakannya adalah suatu kerugian
Karena waktu ini tak pernah berhenti berjalan
Berjalan menuju tempat pemberhentian
Dalam batas waktu yang telah ditentukan
Atau  penyesalan,
akan menjadi kata terakhir yang menakutkan