Thursday, October 29, 2020

Sang Utusan

Cahaya yang melingkar itu tiba - tiba keluar
Dari atas langit, pada malam yang dimuliakan
Begitu terang sejauh mata memandang
Di tengah kerumunan manusia yang duduk bersila
Yang sedang mengingat - ingat nama Tuhannya

Dalam keheningan itu ada suara yang berkata
Dan Kami turunkan utusan di setiap jaman
Begitulah suara yang terdengar
Dari dalam cahaya, yang menggetarkan jiwa
Beberapa kali, hingga gelisah kami menanti

Tak lama berselang, turunlah sesosok manusia
Dari dalam lingkaran cahaya itu dia datang
Turun perlahan, begitu berwibawa dan tenang
Seorang utusan, sosok yang kami kenal
Betapa beruntungnya kami, 
itulah yang pertama terbersit didalam hati

Seandainya jaman kenabian itu belum berakhir
Tentu engkau akan menjadi salah satunya
Tapi kami meyakini kedudukanmu lebih tinggi
Yang bahkan membuat para nabi dan syuhada iri
Karena begitulah yang tertuang dalam kitab para nabi

Begitu dekatnya kami kepada utusan yang mulia
Mengapa selama ini kami tidak menyadarinya
Siapakah kami ini, sehingga layak menerima karunia
Karunia yang besar, yang tak pernah terbayangkan
Bisa berdekatan denganmu dan bahkan menuntut ilmu

Siapakah kami ini....
Diantara berjuta manusia dibumi yang luas
Mengapa engkau diturunkan ditengah-tengah kami,
yang hanyalah manusia-manusia pemalas
Manusia-manusia hina yang selalu mengotori hati
Karena kebodohan kami, yang tak pernah mau mengerti

Wahai utusan yang mulia
Rasa syukur yang besar kami panjatkan
Kepada Tuhan pemilik segala keagungan
Karena engkau telah diturunkan kedunia
Membawa cahaya penerang
Untuk kami yang hampir berputus asa

Engkau perlihatkan gambaran siksa yang begitu jelas
Bahkan dosa yang tak lagi kami ingatpun dibalas
Walaupun dosa yang sebesar biji sawi, 
kami tak akan dapat bersembunyi
Lalu kemana lagi kami akan melarikan diri

Lihatlah begitu sombongnya kami ini
Mencatat setiap amal kebaikan
lalu mengingat-ingatnya didalam dada
Seakan-akan menganggap Tuhan itu pelupa
Apakah pantas kami disebut orang-orang yang percaya

Wahai sang utusan akhir zaman
Jangan pernah bosan memberi kami pemahaman
Tentang arti sebuah perjalanan,
Bagaimana seharusnya kami mengabdi 
Dan merendahkan diri bahkan menghamba
Dihadapan Tuhan sang maha pencipta

Yang selama ini kami lakukan 
Hanyalah mengikuti anjuran, bimbingan bahkan tuntunan
Tak pernah kami melibatkan hati 
Sehingga rasa tulus ikhlas itu, tidak pernah ada
Kami melakukan sebatas apa yang diwajibkan
Dan kami rasa, bukan atas dasar keimanan

Untuk percaya dan yakin, 
Tak semudah yang kami pikir
Tak cukup hanya dengan melontarkan kata-kata
Dan kami pun selalu menuntut bukti, lagi dan lagi
Seakan tak sadar bahwa kami ini hanyalah hamba
Apakah pantas hamba menuntut Rajanya

Seorang hamba sudah selayaknya mengabdi
Merendahkan diri dihadapan Sang Maha Tinggi
Untuk mendapatkan ampunan 
Seharusnya hanya itu yang kami kejar
Bukan menuntut imbalan 
untuk semua yang telah kami lakukan

Seorang hamba sudah sepantasnya menerima
Semua yang diberikan, dengan penuh kerelaan
Baik atau buruk perjalanan ini, tak akan jadi masalah
Seorang hamba hanya berhak pasrah
Mengabdi dengan sepenuh hati
Menghamba dengan merendahkan diri

Wahai utusan yang mulia
Maafkanlah kami yang berjalan begitu lambat
Setiap pemahaman yang kau berikan
Tak dapat dengan cepat kami serap
Karena kebodohan yang kami punya
Bahkan karena kesombongan yang masih ada di dada

Kadang terbersit dihati untuk menyerah saja
Begitu malunya kami yang tak kunjung mengerti
Tentang arti penghambaan yang sejati
Mempermalukanmu dihadapan Tuhan juga menjadi beban
Karena pastinya engkau akan dimintai pertanggung jawaban
Lalu apa yang akan engkau sampaikan

Kesabaranmu benar-benar diluar nalar manusia
Memperbaiki jiwa-jiwa yang sudah tak berharga
Jiwa yang sekiranya matipun tak akan ada yang perduli
Tapi engkau dengan sabar merawat setiap luka
Sedikit demi sedikit, kau rubah jiwa itu laksana mutiara
Kami ini siapa, wahai utusan yang mulia
Kami ini siapa....

Kesabaranmu membimbing kami
Dan ketulusanmu mengajari, 
sudah cukup menjadi bukti
Terimalah sembah sujud kami, 
untuk setiap pemahaman yang engkau beri
Semoga kami benar-benar bisa memahami
Dan menjalani kehidupan atas dasar keimanan
Sehingga tak lagi mempermalukanmu
Dihadapan Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang

Sunday, October 25, 2020

Antara Cinta dan Kepalsuan

Kadang aku sempat merenung didalam hati
Semua pemahaman itu telah aku mengerti
Setiap apa yang sudah dijelaskan 
aku pun mengingatnya di dalam dada
Dan rasa percaya itu pun telah ada

Tapi, yang tak pernah aku pahami
Mengapa, masih saja 
aku melakukan hal-hal yang tercela
Yang aku rasa kurang pantas, 
bahkan melampaui batas

Seringkali aku meremehkan waktu, 
membiarkannya saja berlalu
Bahkan saat menghamba, 
seenak-enak hatiku saja

Lalu kemana semua pemahaman itu pergi
Kemana keyakinan itu hilang
Secepat itu semua ingatan tentangMu 
tak lagi menetap dikalbu

Aku tak pernah habis pikir
Memikirkannya pun aku tak mampu
Apakah selama ini aku benar-benar mencintaiMu
Ataukah hanya berpura-pura cinta saja

Karena kerinduanku padaMu 
tak pernah sampai kedada
Selama ini yang kupersembahkan, 
mungkin hanyalah kepalsuan
Karena masih saja aku mendua, 
Dan mencintai yang lainnya

Sedangkan yang aku tau...
Engkau mengasihiku dengan sempurna
Semua yang aku minta, 
Kau kabulkan dengan segera
Walaupun bukan seperti yang kuingini
Tapi aku yakin, Engkau menggantinya 
dengan sesuatu yang lebih berarti

Mungkin, ada rahasia yang masih kusimpan
Dan tidaklah mudah untuk dapat kuungkapkan
Batasnya tipis sekali, aku tak mampu membedakan
antara ketulusan atau berpura-pura tulus
Karena aku harus menyelam lebih dalam untuk mencari
Hanya untuk dapat mencapai kesadaran diri

Aku merasa bahwa bukan Engkaulah
yang selama ini menjadi tujuan
Tapi yang sebenarnya aku lakukan adalah
memanfaatkanMu untuk mencapai 
apa yang menjadi keinginan

Rasa terima kasih hanya sebatas kata
Tak sampai membekas didada
Tak pernah kubawa saat aku menghadap
hanya sekedar kuucap, untuk kemudian lenyap

Bila ini melupakanMu tanpa sengaja, aku rasa bukan
Karena setiap pemahaman itu, aku mengaku tau
Tapi berpura-pura lupa padaMu, 
itulah yang sebenarnya aku lakukan

Sudah ada niatan didalam hati
Untuk melupakanMu barang sehari
Untuk sekedar menuruti keinginan, 
yang telah sesak memenuhi angan
Tapi karena rasa itu begitu nyaman
MelupakanMu dikemudian, bahkan terasa ringan

Tuhan...
mungkin memang aku tak punya malu
Menghadapkan wajahku 
yang penuh kepalsuan kepadaMu
Sedangkan Engkau adalah 
Sang maha tahu segala isi hati
Lalu bagaimana aku bisa bersembunyi

Tetapi tetap saja aku selalu beralasan, 
Hanya untuk sekedar membela diri
Menutupi rasa maluku, karena harga diriku yang tinggi
Seandainya Engkau buka aibku dihadapan manusia
Dan Kau hukum aku seketika itu juga, aku bisa apa
Karena Engkaulah yang maha berkuasa

Tak seperti apa yang dikata para pujangga
Cinta bukan hanyalah sekedar kata-kata
Tapi cinta adalah pengorbanan
Dan cinta itupun bisa membuatmu buta
Buta untuk melihat keindahan yang lainnya

Tapi...kenapa semua itu tidak berlaku
Berlaku untuk cintaku padaMu
Tak ada yang namanya rindu yang menggebu-gebu
Atau rasa senang saat bertemu
Pengorbanankupun sebatas yang kutentukan
Apakah ini yang namanya cinta
Atau kah hanya berpura-pura cinta belaka

Selama ini Engkau tak pernah kuletakkan 
Diurutan pertama dalam aku mengabdi
Mungkin itu yang selalu membuatku lupa diri
Ada cinta yang lain, yang lebih penting
Untuk hanya sekedar mengejar ingin
Antara cinta dan kepalsuan
Aku bahkan tak dapat membedakan

Kini aku telah memahaminya
Mengapa Engkau tak pernah menetap lama
Selalu menghilang saat aku menuruti keinginan
Karena aku tidak pernah menjadikanmu 
yang nomer satu, dihatiku

Cinta kepadaMu hanyalah bualan, 
ada yang lain yang ingin kukejar
Seakan-akan Engkaulah tujuan
Tapi sebenarnya bukan

Wahai diri....
Yang pertama harus kau temukan adalah
rasa cinta yang sejati
Karena kerinduan tercipta darinya
Yang akan menggerakkan hatimu
Untuk ingin selalu bertemu
Sehingga ada rasa senang 
untuk setiap apa yang kau lakukan
Seberat apapun beban akan kau rasa ringan
Apa-apa yang membuatNya tak senang, 
Takkan kau lakukan
Yang akan menjadi tujuan utama hidupmu adalah menyenangkanNya
Itulah cinta, carilah rasa itu didalam dada
Dan temukan kekuatannya yang luar biasa

Monday, October 19, 2020

Tafsir Kehidupan

Membaca tafsir kehidupan
Yang kau baca hanya sebentar, lalu bosan
Kau puaskan hasrat dunia, kau manjakan keinginan
Sebenarnya, perjalanan ini masih panjang
Tapi engkau menyangkanya telah sampai di tujuan

Selama ini kau kira dunialah tujuan itu
Sehingga kau putuskan berhenti, 
Karena tujuan itu tak lagi kau cari
Teralihkan kenyamanan, cukuplah untukmu hidup
Seperti kebanyakan orang
Kau bangun Istana, dari sarang laba-laba
Dan engkau pun melihatnya nyaris sempurna

Dunia ini tak ubahnya fatamorgana
Dari kejauhan dia yang tampak indah mempesona
Sebenarnya hanya tipuan belaka
Bila kau coba mengejar dan mendekat padanya
Dia akan hilang, layaknya bayang-bayang

Seperti itulah dunia, 
engkau perlu tau sifat-sifatnya
Memang kenikmatan dan keindahannya begitu nyata
Bagaimana tidak terpesona, 
Bila keindahan itu benar-benar terasa, sampai kedada

Tapi bukankah itu percuma bila semua akan lenyap 
Seakan-akan dunia ini hanya sekejap
Seperti mimpi yang hilang saat engkau tersadar
Tinggal didalamnya hanyalah sebentar
Seperti siang atau seperti malam
Waktu yang tak lama bila engkau membandingkan

Cobalah bandingkan dengan masa menunggu
Bukankah masa itu lebih lama dari hidupmu
Hidupmu didunia yang tak seberapa
Dibanding hidup didalam masa penantian
Pernahkah engkau benar-benar memikirkan
Pikirkan tentang orang-orang sebelum mu
Bukankah sampai sekarang mereka masih menunggu

Begitu seringnya engkau mendapatkan pemahaman
Bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan
Mengapa engkau masih saja berpaling
Menganggap dunia inilah yang paling penting
Kau masih saja mengejarnya mati-matian
kenikmatan yang tak seberapa
Yang bahkan tak dapat dibandingkan
Dengan kenikmatan di kampung halaman

Pernahkah engkau melihat kampung halaman itu
Tempat yang seharusnya menjadi tujuan hidupmu
Disana ada nikmat yang tak terbayangkan
Dan bahkan derita yang tak terkira
Dunia ini hanyalah tempatmu menentukan pilihan
Dan menguji seberapa besar dirimu meyakini
Bahwa sebenarnya masih ada tempat kembali

Tapi engkau tak akan dapat melihatnya
Hanya dengan mengandalkan apa yang dapat kau raba
Lihatlah kampung halaman itu dengan keimanan
Agar kekawatiranmu akan dunia ini hilang
Sehingga perjalananmu pulang 
tak tergoyahkan angan

Tafsir kehidupan ini begitu tebal
Takkan cukup seumur hidupmu untuk membacanya
Karena pohon-pohon telah menjadi pena
Dan lautan menjadi tinta
Bahkan itu saja masih kurang aku rasa

Untuk membacanya, 
Yang kau butuhkan adalah  pemahaman
Maka dari itu, berburu pemahaman itu perlu
Untuk dapat sampai ke tempat yang kau tuju
Agar engkau tidak tersesat dan berhenti terlalu lama
Dalam perjalananmu menuju kesana
Dan berjalan beriringan, setidaknya menyenangkan

Dalam tafsir kehidupan ini dunia ada di awal cerita
Bila tak kau lanjutkan membaca, 
Mungkin kau takkan tau pertengahan bahkan akhirnya
Sebenarnya ada hikmah yang harus kau cari
Dalam mengarungi lautan kehidupan ini

Dalam setiap  lembaran-lembaran kehidupan itu 
Ada jawaban untuk mereka yang mencari tau
Bagaimana cara menghadapi gelombang saat menerjang
Bagaimana cara bertahan, dan bahkan mengajarimu
bagaimana cara berterima kasih
Agar engkau tidak menjadi orang yang tersisih

Bisa jadi dalam perjalananmu
Akan kau temukan lembaran-lembaran rahasia
Yang tidak setiap orang diperbolehkan untuk membacanya
Tapi itu semua tergantung, bagaimana engkau mencari

Maka bacalah perlahan, setiap lembaran kehidupan
Jangan tergesa-gesa, aku takut engkau akan terlupa
Biarlah setiap pemahaman yang kau terima 
diserap oleh jiwa, agar jiwa itu tetap tenang, 
Sampai tiba waktunya berpulang, ke kampung halaman

Mengingat kampung halaman tidaklah mudah
Tapi jangan lalu kau jadikan alasan untuk menyerah
Bisa jadi akhir cerita kehidupanmu menyedihkan, 
Atau bisa pula akhir yang menyenangkan
Maka cepat-cepatlah engkau tentukan disini
Tentukan akhir cerita kehidupanmu sendiri
Tentukanlah di dunia ini...

Tanamkanlah semangat dan keyakinan
Jadikanlah bahan bakarnya untuk terus maju
Setiap pemahaman, jangan pernah engkau buang
Agar penafsiranmu tidak keliru
Jadikanlah pegangan, bila engkau tersesat
Dan jangan bilang ini semua sudah terlambat
Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

Yang Lebih Dulu Tau

Siapakah yang lebih tau, 
dari pada yang lebih dulu tau
Apakah bodoh itu bisa disandang 
Mereka-mereka yang masih ingin belajar
Ataukah sepantasnya disandang 
mereka-mereka yang merasa pintar
Sehingga menjadi malas dan berhenti berjalan
Atau mungkin, disandang oleh mereka yang percaya
Tapi tidak berprilaku layaknya orang-orang yang percaya

Bagaimana mungkin akan paham
Jika tak pernah kau renungkan
Tentang diri dan lebih jauh kedalam
Bertumpu pada akal, 
takkan kau temukan jalan keluar
Lebih banyak yang engkau tidak tau
Dari pada yang tau
Maka berpura-pura taulah saja
Untuk sekedar meredam keherananmu

Berfikir tentang Tuhan,
dan saling menyalahkan
Merasa diri yang paling benar
Padahal Tuhan tidak bisa dijangkau,
hanya dengan mengandalkan akal pikiran
Jangkaulah Dia dengan keyakinan dan ketakwaan
Sungguh lucu manusia itu...
Mengenal dirinya sendiri saja belum bisa
Bagaimana akan mengenal Tuhannya

Mengenal diri adalah kunci
Untuk menuju kesejatian yang abadi
Jangan ada rahasia jika ingin mendekat padaNya
Karena Tuhan tak akan memasuki hati yang penuh luka
Luka perjalanan yang kau biarkan terlalu lama
Membuat hatimu membusuk
Dan pada akhirnya akan binasa

Penyebab luka itu kau perlu tau
Penyakit hati yang telah lama menggerogoti kalbu
Sombong, kikir, tamak, iri bahkan dengki
Penyakit-penyakit hati itu yang selalu bersembuyi
Yang selama ini kau tampakkan pada dirimu
Hanyalah kebaikanmu saja
Tapi sifat burukmu itu, 
apakah kau pernah mengakuinya

Ilmu ini begitu luas
Jadi jangan pernah merasa puas
Raihlah semuanya jika kau mampu
Tapi lihatlah dulu, pada apa engkau bertumpu
Bertumpu pada akal adalah kesia-siaan
Apakah selama ini engkau tak pernah mengerti
Yang dapat menampungnya hanyalah hati
Tapi bagaimana bisa, bila hati itu penuh luka
Mungkin itulah sebabnya
Setiap pemahaman yang diberikan
tak dapat dengan mudah kau terima
Bahkan hilang dari ingatan, 
seakan tidak pernah ada

Mengetahui penyakit hati adalah obat
Karena aku yakin tidak ada kata terlambat
Penyakit hati adalah rahasia yang tersimpan di dalam
Bila tak kau keluarkan, 
Maka sulit bila kau ingin temukan terang
Karena mereka harus terlebih dulu menyadarinya
Bahwa penyakit itu memang ada didada
Atau perjalananmu selama ini akan sia-sia
Karena hanya hatilah yang akan kau bawa bersua
Secuil kata ini semoga dapat memberi arti
Bagi mereka yang ingin mendekatkan diri
Karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Suci
Maka cepat-cepatlah kau rawat setiap luka
Agar engkau layak dipandang olehNya

Friday, October 16, 2020

Cobalah Masuk Kedalam

Agama itu Ibarat sebuah istana, 
Bangunan kemuliaan bagi manusia
Yang selama ini aku lakukan
Hanya mengagumi dari luarnya saja
Istana itu dibangun atas dasar perintah dan larangan
Dengan imbalan surga, 
dan neraka sebagai ancaman

Sebenarnya tujuannya sederhana
Hanya untuk menertibkan manusia
Agar setiap keinginan tak saling berbenturan
Bersama-sama dalam mengabdi, 
Memuji Sang Maha Suci
Begitulah yang membuat istana itu begitu kuat
Karena yang menjadi tiang-tiangnya adalah sholat
Dan ibadah yang lainnya 
Sebagai penyempurna bangunannya

Memandang Istana itu dari luar
Bagiku masih ada yang kurang
Aku harus masuk kedalam, 
untuk dapat menemukan jawaban
Ingin kutanyakan mengapa
Untuk setiap pertanyaan yang tercipta
Masuk kedalam istana adalah suatu keinginan
Memandang untuk lebih mengerti
Sudut pandang yang berbeda 
dengan yang selama ini aku yakini

Untuk memasukinya harus kutemukan jalan
Jalan yang biasa dilalui orang-orang yang mencari
Yang dibutuhkan adalah ketulusan hati
Karena didalam istana, ada tata cara tersendiri
Tidak setiap orang bisa masuk
Untuk memasukinya dibutuhkan hati yang kusyuk
Ukurannya bukan lagi halal atau haram
Tapi lebih kepada seberapa pantas dirimu untuk dipandang

Memantaskan diri dihadapan Tuhan apakah bisa
Bila tidak ada seseorang yang mengajarinya
Seorang yang mengetahui semua rahasia didalam
Yang mampu mengajarimu, 
Bagaimana seharusnya engkau berlaku
Bersyukurlah karena telah diturunkan seorang utusan
Karena Tuhan berkehendak membuka rahasia
Hanya bagi mereka-mereka yang menginginkannya

Wahai manusia,
Belajarlah dengan sungguh-sungguh
Karena kesempatan ini tidak setiap saat ada
Menyia-nyiakannya adalah suatu kerugian
Karena waktu ini tak pernah berhenti berjalan
Berjalan menuju tempat pemberhentian
Dalam batas waktu yang telah ditentukan
Atau  penyesalan,
akan menjadi kata terakhir yang menakutkan

Thursday, July 30, 2020

Berkorbanlah Karena Tuhanmu

Disinilah Kita, yang berada di penghujung suatu jaman
Dan waktu sendiri yang telah menyampaikan kita 
Kepada salah satu bulan yang dimuliakan
Suatu bulan yang penuh keagungan
Maka berkorbanlah karena Tuhanmu

Semoga pada bulan besar ini
Tuhan selalu menurunkan rahmatnya
Sehingga kita mampu dengan kesungguhan hati
Menyikapi setiap keadaan dengan iman
Maka berkorbanlah hanya karena Tuhanmu

Berkorbanlah karena Tuhanmu
Dan sampaikanlah rasa terima kasih itu
Persembahkanlah dengan apa yang kau punya
Jangan berkorban hanya karena kita diingatkan
Dihimbau, dianjurkan bahkan karena tuntunan
Berkorbanlah dengan hatimu atas dasar keimanan

Jangan pernah mengharapkan pujian manusia
Atas semua yang telah engkau persembahkan
Atau semua pengorbananmu akan sia-sia
Kesenangan didunia ini tidaklah lama
Aku heran, begitu senangnya mereka
dengan segala macam penghormatan yang ada

Mengingat-ingat setiap amal kebaikan
Itulah yang selama ini engkau lakukan
Dengan harapan mendapatkan balasan yang besar
Kau kira Tuhanmu itu pelupa...
Dimana sebenarnya kau letakkan keyakinanmu itu
Justru amal yang tak lagi kau ingat, Itulah yang dicatat
Dan menjadi salah satu sebab turunnya rahmat

Alangkah baiknya bila engkau menjadi seorang pelupa
Sehingga amal itu tak lagi tersimpan didada
Biarlah Tuhan sendiri yang mengingatnya
Karena disitulah letak iman yang sesungguhnya
Percaya dan yakin bahwa Tuhan itu maha kaya
Mengabdi dengan sepenuh hati
Menghamba dengan merendahkan diri

Jalanilah kehidupanmu dengan rasa percaya
Siap menerjang semua yang menghadang
Tak perduli derita atau senang yang kan kau temui
Semua akan sama saja, bila iman telah kau punya
Renungkanlah lagi, 
atas dasar apa kita menjalani kehidupan ini
Hanya sekedar menuruti keinginan
Atau benar-benar atas dasar keimanan

Jiwa - Jiwa yang Kotor

Jangan meremehkan kebaikan walau sedikit
Bisa jadi kebaikan yang tak lagi kau ingat
Menjadi penyebab turunnya rahmat
Rahmat itu sama dengan belas kasih 
Yang kau dapatkan dari caramu berterima kasih

Kemudahan dalam segala urusan 
adalah salah satu balasan
Pertolongan yang tiada disangka-sangka
Tak perlu kau mengira-ngira kapan dia datang

Dan kebanyakan kita, tak akan pernah sadar
Bila yang selalu kita harapkan
Suatu balasan yang berwujud
Bukan hanya sekedar rasa
Padahal, hanya rasa yang bisa menetap di jiwa
Sedangkan wujud hanya akan menyenangkan 
orang-orang yang melihatnya

Memang begitulah sifat manusia 
Begitu inginnya mereka dipuja-puja
Dengan begitu mereka akan merasa sempurna
Dan keberadaannya didunia seakan lebih dihargai
Berharga didunia yang fana ini

Tapi bila mereka benar-benar mengetahui,
harga dunia yang sesungguhnya
Aku yakin, hati mereka akan berkecamuk
Karena sesungguhnya dunia ini 
tidak lebih berharga dari sayap seekor nyamuk
Tapi menyesal, sudah tak ada guna
Bila sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa

Jadi cepat-cepatlah berubah pikiran
Mengingat kita masih diberi kesempatan
Manfaatkanlah sebisanya, segala sumber daya
Sekarang bukan saatnya mengira-ngira
Berlarilah bila memang keyakinan itu sudah kau pegang
Atau kau akan tertingal jauh di belakang

Lihatlah manusia, 
Bagaimana mereka memperlakukan sebuah jiwa
Mengotorinya tanpa pernah merasa
Dengan mudahnya mereka mengorbankan hati
Perbuatan yang bahkan tidak pernah mereka sadari
Berdampak pada jiwanya, jiwa-jiwa yang penuh luka

Selama ini, yang mereka perbaiki hanya jasadnya saja
Sedangkan yang tersimpan didalam, 
Tidak pernah mereka perhatikan
Tak tahukah mereka, 
bahwa didalam jasad manusia, ada segumpal daging
Bila ia baik, Maka baik pula seluruh jasad
Dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruhnya

Segumpal daging itulah hati
Perlakukanlah dia dengan sangat hati-hati
Jangan kau masukkan setiap apa yang kau lihat
Kau dengar dan kau ucapkan
Bahkan dengan setiap perbuatanmu sehari-hari
Rawatlah dia, agar terjaga kesuciannya
Supaya jiwa itu tetap tenang
Tidak terpengaruh dengan setiap keinginan
Sampai nanti tiba waktunya berpulang

Jiwa-jiwa yang kotor
Begitulah kita, saat menginjakkan kaki didunia
Manusia tak akan pernah luput dari dosa
Oleh karenanya, jangan pernah merasa suci
Karena hanya Tuhanlah yang maha suci

Kita hanyalah jiwa-jiwa yang sedang mencari
Mencari jalan untuk membersihkan diri
Sehingga layak untuk dipandang olehNya
Tuhan pemilik segala kemuliaan
Oleh karena itu, jangan dengan mudah menyalah-nyalahkan
Salahkanlah dirimu sendiri
Yang sejak awal sudah tak perduli

Kau masukkan semua urusan dunia ke hatimu
tanpa sempat kau pilah-pilah terlebih dahulu
Antara baik dan buruk hampir tak ada beda
Atau mungkin karena hatimu sudah tak bisa merasa

Memang benar hati itu seluas samudra
Tapi bila yang satu masuk, yang lain akan keluar
Seakan hati itu, tidak mau diduakan
Selalu berprasangka baik adalah sebuah jawaban
Untuk sekedar meredam keragu-raguan dihatimu
Sehingga meringankan langkahmu untuk terus maju

Jangan mudah berprasangka buruk, 
Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk
Membuatmu terdiam lama, 
Dan hanya membuang-buang waktu saja
Ketahuilah bahwa Tuhan itu sesuai prasangka hamba-hambanya
Maka dari itu, berprasangkalah yang baik-baik
Karena kebaikan pulalah yang akan engkau terima

Lihatlah selalu,
apa yang kau masukkan kedalam hatimu
Haus akan pujian manusia telah membuatmu lupa
Amal kebaikanmu itu kau persembahkan kepada siapa
selama ini semua yang telah engkau korbankan
Hanyalah sekedar menuruti keinginan
Supaya engkau dipandang mulia, 
oleh manusia-manusia yang lainnya

Tanpa sadar engkau telah mengorbankan kesucian hati
Karena itu kau sudah tak lagi perduli
Semua amal yang telah kau lakukan 
Tak ubahnya seperti fatamorgana 
Dalam pandanganmu dia yang seakan-akan ada
Lenyap tak dianggap, bukankah itu suatu kerugian
sia-sialah sudah, apa yang selama ini telah engkau usahakan

Tidakkah kau mengerti, untuk apa jiwa itu tercipta
Sebuah Jiwa itu tercipta hanya untuk mengabdi
Mengabdi kepada Tuhan yang maha tinggi

Friday, July 17, 2020

Golongan - Golongan Manusia

Dunia ini adalah tempatnya tipu daya
Tujuan yang semula satu terbagi menjadi beberapa
Begitu juga pandangan mereka tentang apa yang benar
Kebenaran itu ada tiga, bila kau bertanya
Kebenaran menurutmu
Kebenaran menurut mereka
Dan kebenaran menurutNya
Renungkanlah kau ikut yang mana

Dalam beberapa golongan, manusia itu terbagi
Tergantung pada seberapa besar kita mencari
Memaksakan kehendak tak akan bisa
Walau berbagai macam pemahaman telah kau sampaikan
Karena manusia hanya akan memilih apa yang mereka cintai

Begitulah sifat dunia, tempat yang melalaikan
Agar kau lupa pada tujuan awal sebuah penciptaan
Tidakkah mereka ingat sebelum itu telah mengambil sumpah
Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang patut disembah

Hati laksana sebuah bejana
Periksalah apa yang kau masukkan kedalamnya
Karena hati mengikuti tabiat manusia
Satu dan lainnya tak akan pernah sama
Oleh karenanya, manusia akan selalu mencari
Mereka yang satu tujuan dan satu kesenangan
begitulah awal mengapa mereka terbagi 
menjadi bergolongan-golongan

Golongan pertama adalah mereka yang percaya
Bahwa percaya dan yakin itu harus menerima
Suka atau tidak memang begitulah adanya
Bila kebenaran itu telah menyentuh dijiwa
Pasrah dan sabar menjadi pegangan
Untuk melaksanakan apa yang diperintahkan
Tidak ada lagi ke aku'an
Karena itu hanya akan menghasilkan penolakan

Golongan kedua adalah golongan mereka yang enggan
Percaya dan yakin tak sampai masuk hati
Karena akal mereka selalu menghalangi
Seperti orang yang tidak punya pendirian
Kepada siapa dan apa yang seharusnya mereka yakini
Sangat suka memilah-milah suatu perintah
Bila senang akan mereka lakukan
Bila susah mereka jauhi
Bukan tidak meyakini kebenaran apabila telah datang
mereka sudah tahu, hanya saja mereka enggan
Untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar
Seakan kebenaran itu sebuah lelucon yang disaksikan
Menentukan seenak hati, sesuai keinginan

Golongan ketiga adalah golongan orang-orang yang sesat
Mereka tak berkeyakinan bahwa dunia ini hanya sesaat
Tak perduli tentang adanya tempat kembali
Karena dunia sudah terlalu mereka cintai
Mengumbar keinginan, menuhankan akal
Semua harus sesuai hitungan matematika
Bila tidak dapat dilogika, tak akan mereka terima
Tak perlu kau paksakan kebenaran pada golongan ini
Cukup sampaikan, lalu tinggalkan
Atau keyakinanmu akan Tuhan akan tergantikan

Sunday, July 12, 2020

Sombong Yang Membinasakan

Akan ku ceritakan padamu sebuah kisah
Tentang perjalanan seorang ahli ibadah
Ribuan tahun memuji Tuhannya tanpa mengenal lelah 
Para malaikatpun berdecak kagum,
Lihatlah, begitu sempurnanya dia dalam menyembah

Kemudian Tuhan bersabda
Masukkanlah dia kedalam surga karena rahmatKu
Karena begitu setianya dia dalam menunggu
Masukilah dari pintu mana saja yang kau kehendaki
Begitulah balasan, kepada hamba-hambaKu yang berbakti

Dengan lembut diapun menjawab...
Wahai sang maha bijaksana, maaf hamba tidak bisa
Setidaknya masukkanlah aku, 
karena amal yang kupunya
Tidakkah Engkau maha melihat hambaMu ini
Bagaimana siang malam aku telah mengabdi

Wahai hambaKu yang Kurahmati
Apakah keadilanKu yang kau ragukan
Sedangkan engkaupun menyembahku tanpa beban
Baiklah bila itu yang kau minta
Aku akan memasukkanmu kedalam neraka
Karena amalmu yang tak seberapa 
Bila dibandingkan dengan rahmat yang Ku punya

Tuhan, apakah ini yang Engkau namakan keadilan
Begitu mudahnya Engkau dalam memutuskan
Sia-sialah apa yang telah ku usahakan selama ini
Setidaknya berikanlah alasan yang dapat kupahami
Agar bisa kubuat pegangan, 
bila Kau berkenan memberi kesempatan

Wahai hambaKu, tidakkah kau merasakan belas kasihKu
Siang malam engkau memuji, kau kira Aku tidak tahu
Katakan dari mana semua kekuatan itu berasal
Sedangkan engkaupun Aku yang menciptakan
Aku berikan kesehatan dan rasa senang
Lalu, nikmatKu yang mana yang engkau dustakan

Kuhilangkan darimu rasa resah, gundah dan gelisah
Agar kau bisa dengan tenang beribadah
Kuturunkan hujan sebagai berkah
Kuciptakan makanan agar engkau menjadi kenyang
Katakan, nikmat mana lagi yang engkau dustakan
Apakah engkau benar-benar sudah memikirkan

Yang sebenarnya engkau miliki hanyalah hawa nafsu
Sedangkan semua yang ada padamu adalah milikKu
Rahmat yang Kuberikan memang sulit untuk kau lihat
Tapi bukan berarti tidak ada yang Aku perbuat
Kau kira dengan amalmu itu dapat memuliakan Aku
Aku ini sang maha mulia, apakah kau lupa sifat-sifat yang Ku punya

Begitulah awal kisah sang ahli ibadah
Dia menyesali apa yang telah terucap, 
hingga Tuhan berkenan menerima taubat,
dan memasukkannya ke surga yang penuh nikmat
Disana dia bahkan menjadi panglima
Diantara para malaikat yang berhati mulia
Tapi, setitik kesombongan itu tetap melekat didada
Dan adalah Tuhan sang maha berencana
Dari kata Balasa yang artinya, dia yang menyesal
Iblis begitulah panggilan nama yang diberikan

Lalu Tuhan pun berkehendak 
Dia berkeinginan mengangkat seorang kalifah di bumi
Ditawarkannya kepada lautan dan gunung-gunung tinggi
Tapi tidak ada dari mereka yang berani
Karena memikul amanah adalah sesuatu yang berat
Setidaknya begitu yang mereka yakini

Tuhanpun menciptakan sesuatu yang baru
Karena segala rahasia hanya Dia yang tahu
Dari saripati tanah, mahkluk ini berasal
Dari lumpur yang hina, begitulah dia tercipta
Lalu malaikatpun berkata, 
Wahai Tuhan yang maha mulia
Tidak cukupkah kami yang selalu memuji-muji
Mengapa Engkau menciptakan Mahkluk yang akan membuat kerusakan dimuka bumi
Dan menumpahkan darah, ditempatMu yang suci
Tuhan berkata, Sesungguhnya Aku mengetahui,
apa yang tidak kamu ketahui

Kemudian jadilah dia seorang manusia, 
dan Adam adalah sebutan yang disandangnya
Diajarkannya segala macam pengetahuan
Nama-nama yang tidak seorang mahklukpun paham
Rahasianya ada di hati, bila kau bertanya
Karena hanya disitulah Tuhan dapat bersemayam
Wahai semua mahkluk, 
sujudlah kepada ciptaanKu yang mulia
Karena dialah yang telah Aku tunjuk
Laksanakan perintah, karena Aku telah bertitah
Dan Aku tak ingin seorangpun dari kalian yang membantah

Lalu Sujudlah para malaikat dan mahkluk seluruhnya
Karena titah sang Raja sudah selayaknya dituruti
Dengan begitu, engkau akan dianggap sebagai orang-orang yang berbakti
Tapi tidak dengan dia, yang penyesalannya hanya sebatas kata
Dia tidak mau sujud kepada seorang manusia
Mahkluk yang dia anggap lebih rendah dalam hal kedudukan
Dan sekarang engkau dapat melihat, 
bagaimana setitik kesombongan itu dapat membinasakan

Wahai iblis, apa yang menghalangimu melaksanakan perintahKu
Berikanlah alasan, karena Aku hanya akan menghukum dengan keadilan
Wahai sang maha adil, aku tak pernah habis pikir
Kau ciptakan aku dari api yang suci
Dan Kau ciptakan dia dari tanah yang hina
Tapi mengapa Engkau masih tetap memilihnya
Apakah ibadahku selama ini tak pernah Engkau anggap
Sedangkan dia yang baru tercipta sudah Kau beri nikmat

Sesungguhnya setitik kesombongan didadamu itu yang telah membuatmu buta
Pemicu dari sifat iri dan dengki yang kini kau punya
Tidak tahukah engkau bahwa Aku ini sang maha suci
Mengapa kesombongan itu masih saja engkau bawa
Aku tidak lain hanya ingin menguji
Akankah engkau menyembahKu dengan setulus hati
Dan apakah engkau masih saja merasa,
Bahwa engkaulah yang lebih mulia dari mereka

Keluarlah engkau dari surgaKu ini
Karena syarat memasukinya, hanya dengan merendahkan diri
Kesombongan telah membuatmu lupa
Berapapun banyaknya amal yang kau lakukan
Tidak akan pernah Aku terima
Jika masih ada sedikit saja kesombongan itu bersemayam di dalam dada

Wahai Tuhan, 
tangguhkanlah hidupku 
sampai waktu yang Kau tentukan
Lihatlah bagaimana aku akan menyesatkan mereka
manusia-manusia yang Engkau telah muliakan
Akan kuhancurkan keyakinan mereka kepadaMu
Sebagaimana mereka telah memupuskan harapanku
Akan kubuat mereka lupa, kepada siapa mereka harusnya menghamba

Wahai iblis,
Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang ditangguhkan
Tapi ingat, tak akan ada jalan kembali
Penghianatanmu kepadaKu tak dapat terampuni
Dan siksa neraka adalah tempatmu yang abadi
Tak akan lagi Ku terima tobat
Karena engkau sudah terlanjur berucap
Engkau hanya dapat menyesatkan 
mereka-mereka yang tak dapat merasa
Oleh karena hati mereka yang buta
Karena sesungguhnya 
Akulah Tuhan yang maha melihat hambaNya

Wahai manusia,
Belajarlah dari masa lalu
Begitulah kesombongan akan membinasakanmu
Ingat-ingatlah didalam hati
Bahwa hanya Tuhanlah yang maha suci
Kesombongan jangan kau pendam terlalu lama
Karena itu hanya akan membuatmu lupa
Kepada siapa engkau seharusnya menghamba
Ketahuilah Surga hanya untuk mereka 
yang merendahkan diri dihadapan Tuhannya
Ingat-ingatlah bila kau benar-benar ingin memasukinya
Semoga kisah ini bisa engkau jadikan pelajaran
Sebagai bekal dalam perjalananmu pulang
Bersihkanlah hati, bersihkanlah hati
Karena disitu, ada rahasia yang tersimpan

Friday, July 3, 2020

Setengah dari Tujuan

Hanya sebatas itu saja sebenarnya
Bahagia itu, sudah terasa
Tak terlihat mata memang
Tapi bahagia yang kurasakan, 
tak mungkin hanya sekedar angan

Benar-benar terasa, 
sampai ke dada...
Ibarat kerinduan yang telah menemukan cinta
Obat bagi hati yang letih...
Untuk kami yang berjalan tertatih

Apakah ini yang dinamakan rahmat semesta
Perasaan senang yang tiba-tiba ada
Seakan rasa gundah itu terlupakan
Hanya mendengar suaramu saja, 
Kami senang...

Duhai kekasih hati...
Mengapa engkau tak pernah menetap lama
Mungkin jiwa ini yang terlalu malu
Bila berlama-lama menatap wajahmu

Ajarilah kami, bagaimana cara berterima kasih
Untuk setiap pertolonganmu dan belas kasih
Cara yang engkau harapkan mungkin tak sama
Karena selama ini,  kami masih mengira-ngira

Kadang kami tidak pernah sadar
Pemberianmu lebih dari yang dapat kami bayangkan
Selama ini kami menilainya dari yang nampak saja
Sedangkan yang tersembunyi, 
Tak terhitung jumlahnya

Tapi apa yang kami persembahkan,
Hanya sebatas kemampuan, dan kadang alakadarnya
Tak pernah kami memaksakan lebih, 
Padahal kami telah mentasbihkan diri sebagai orang-orang yang yakin, 
yakin bahwasanya engkaulah yang terpilih

Membayangkan bila engkau datang sebagai raja
Pasti kami akan mempersembahkan seluruh jiwa raga
Tapi engkau datang sebagai manusia biasa
Yang hanya dipandang orang sebelah mata

Begitu memalukan memang
Bagaimana kami memperlakukan seorang utusan Tuhan
Yang terpikirkan hanyalah perut kami sendiri
Sedangkan saat engkau menahan lapar, 
kami bahkan tak perduli

Begitu banyak pertolongan yang telah engkau berikan
Dan kami menerimanya saja tanpa beban
Seakan mengingatmu hanya saat dibutuhkan
Setelahnya, hanya tinggal kenangan

Wahai sang utusan
Begitu beratnya amanat yang engkau emban
Sedangkan memohon kepada Tuhan untuk sekedar kebutuhanmu, engkau malu
Dan kami, tak pernah begitu perduli

Manusia seperti apakah kami ini
Memperlakukan kesayangan Tuhan seenak hati
Padahal engkau telah merubah kami laksana mutiara
Usahamu yang tidak benar-benar kami hargai

Wahai pujaan jiwa
Apakah kami benar-benar telah buta
Raga yang letih tapi tak pernah lelah engkau berdoa
Mendoakan kami dan seluruh keluarga
Agar dapat melewati cobaan hidup yang tak sewajarnya

Benar-benar memalukan
Saat kami masih bisa bernafas dengan bebas
Saat kami punya kesempatan dan kami mampu
Tapi tidak dengan segera mengabdi padamu

Wahai manusia, ingat-ingatlah waktu
Dan tanamkanlah didalam kalbu
Belajar berterima kasih adalah setengah dari tujuan
Apalagi yang kau kejar, 
Bila kau benar-benar ingin belajar

Wujud nyata sebagai bukti
Bila kau memang ingin berbakti
Dan setiap apa yang kau yakini itu harus diuji
Agar tidak hanya sekedar kata-kata belaka
Karena sesungguhnya Tuhan maha melihat hambanya

Monday, June 29, 2020

Demi Waktu

Beginilah kita...
Yang sedang berjalan-jalan didunia
Tapi ingat, kembali ke tempat asal
Memang sudah keharusan...

Terserah, mau berapa lama engkau akan tinggal
Karena di setiap perjalanan, selalu ada tujuan
Bersenang-senanglah sebentar saja
Bila terlalu lama, aku takut engkau akan terlupa

Perjalanan saat ini begitu penting...
Tapi mengapa, mereka tak pernah mau berfikir
Atau mungkin mereka tidak ada niatan untuk kembali
Apakah begitu senangnya mereka didunia ini

Tanpa engkau sadar, waktu ini terus berjalan
Lalu, sampai kapan kita akan selalu menghiraukan
Yang selama ini kita lakukan hanya 
belomba-lomba membangun istana dunia
Seakan tempat kembali itu, tidak pernah ada

Sesungguhnya inilah yang aku namakan kerugian
Lupa pada tujuan awal sebuah perjalanan
Demi waktu yang berjalan begitu cepat
Bila tidak sekarang kau ingat, 
mungkin semua akan terlambat

Ingat akan tujuan hidup, adalah sebuah langkah awal
Yang pertama kau butuhkan adalah keimanan
Iman adalah keyakinan di dalam hati
Bahwa suatu saat kita pasti akan kembali

Karena itu, persiapkanlah bekal dan cindramata
Karena jalan menuju pulang menuntut banyak syarat
Bila tidak kau penuhi lalu apa yang akan engkau bawa
Sia-sialah sudah, Perjalananmu yang hanya sesaat

Syaratnya mudah sebenarnya...
Intinya, jangan punya niatan untuk menetap
Bila sudah cinta, meninggalkannya akan terasa berat
Ambillah secukupnya, yang sesuai kebutuhan
Karena setiap keinginan, takkan dapat terpuaskan

Saat kau pulang, setidaknya tinggalkanlah kenangan
Kenangan manis, untuk hati mereka yang teriris
Agar luka perjalanan ini tak begitu mereka rasa
Karena nasehat yang kau berikan 
mungkin telah merasuk ke dalam dada

Saling nasehat-menasehati tentang kebenaran
Bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan
Disini, tak perlu kau bangun Istana
Toh...kau akan meninggalkannya juga

Beginilah kita...
Bersusah payah mengumpulkan harta benda
Tapi, bila tak tahu cara membelanjakannya,
Semua akan jadi percuma
Dan menumpuk-numpuk harta, 
hanya akan menjadi sebuah kerugian yang nyata

Mengingat tempat kembali bisa menjadi pembatas
Untuk memisahkan mana kebutuhan 
dan mana keinginan yang tanpa batas...
dan dalam perjalanan ini, sering kali kita terlupa
Mana yang bermanfaat dan mana yang sia-sia

Sampaikanlah bahwa yang kita butuhkan 
hanyalah bersikap sabar
Karena dalam perjalananmu pulang, 
akan kau temui banyak ujian
Didunia ini memang tempatnya, 
tak usah kau tanya mengapa
Jalanilah saja, untuk waktu yang tak lama


Saturday, May 23, 2020

Keselamatan, Keberkahan dan Cinta

Seiring Gema Takbir yang bekumandang
Dan kewajiban yang telah kami tunaikan
Walaupun tak seberapa, 
Dalam kami mengamalkannya
Setidaknya kami telah berusaha
Melaksanakannya dengan rasa tanggung jawab
Dan suka cita...

Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa
Dengan berakhirnya tanggung jawab kami dibulan ini
Seiring itu pula kami memohon ampunan kepadaMu
Atas segala keangkuhan kami
Kesombongan kami
Bahkan kebodohan dan ketidaktahuan kami
Dalam menjalani kehidupan didunia ini

Ingatkanlah kami selalu, atas segala kekurangan,
Ketidakmampuan kami...
Dan ketidaksempurnaan kami dihadapanMu, 
Wahai Dzat Yang Maha Sempurna
Terimalah pengakuan kami
Sebagai hambaMu
Hamba yang hina...

Dan tak lupa kami memohon kepadaMu
Bukakanlah selalu pintu hati kami
Sehingga kami mengerti
Dan memahami...
Betapa banyak karunia yang telah Engkau limpahkan
Yang kami benar-benar tidak menyadarinya
Yang kami tahu hanyalah, selalu menuntut
Dan tak pernah merasa cukup

Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Kami memohon rahmat dan hidayahMu
Sehingga Engkau mudahkan segala sesuatu
Dan Engkau beri kami keselamatan dan keberkahan
Dalam mengarungi kehidupan
Yang penuh rintangan
Dan tipu daya ini...

Salam...
Salam...
Salam...

Tuesday, May 19, 2020

Jaman Yang Penuh Luka

Sudah...
Berhentilah membicarakannya
Bila engkau tak siap, 
Bukan berarti mereka yang salah
Salahkanlah dirimu sendiri
Yang sejak awal, sudah tak perduli...

Mungkin memang sudah waktunya jaman ini berubah
Bila tak sesuai keinginan,
Jangan lalu kau jadikan alasan untuk menyerah
Tak perlu heran dengan keadaan
Karena ini semua terjadi bukan kebetulan

Ini baru permulaan, 
Coba kamu pikirkan kelanjutannya
Bila di awal sudah kau rasakan sengsara
Lalu...bagaimana dengan pertengahan
Bahkan akhirnya....
Mungkin hanya ada penderitaan di setiap cerita

Bukan tidak ada solusi, 
Dalam menjawab tantangan peradaban ini
Tapi jika hanya niat saja, aku rasa masih kurang
Ketika rasa percaya itu telah tiada
Akan sulit bila kau coba mencari gantinya
Maka kuat-kuat kanlah dirimu 
Dalam setiap pergantian waktu

Mau tak mau kehidupan ini harus tetap berjalan
Jadikanlah iman & takwa sebagai bekal
Bila tak kau tingkatkan, 
Mungkin engkau yang akan tertinggal
Menggerus pemahamanmu tentang keyakinan
Lalu apa yang akan kau jadikan pegangan

Sebenarnya, yang dibutuhkan hanyalah ketulusan hati
Dan aku rasa, saat ini sulit untuk bisa kau temui
Manusia sudah tak lagi punya rasa
Mereka telah lama lupa,
Bagaimana caranya menghamba
Selalu mengharapkan imbalan
Untuk semua yang diperintahkan

Sabar dan ikhlas harus tetap kau usahakan
Karena hanya itulah bekalmu dalam berperang
Jangan melakukan perintah, hanya karena diwajibkan
Tapi tanamkanlah didalam kalbu
Bahwa semua itu sudah menjadi tanggung jawabmu

Keluh kesah, resah dan gelisah
Singkirkanlah dari jiwa
Tak ada yang perlu ditakutkan
Hidup dijaman yang penuh luka
Percaya dan yakinlah 
Hanya berbekal kesungguhan dan ketulusan hati
Tuhan akan memberikan kekuatan
Untuk dapat menjalani kehidupan ini

Sunday, May 17, 2020

Raja Manusia

Akan aku ceritakan kepadamu, tentang dua raja
Saat keduanya bertahta didada manusia
Tak saling berebut kekuasaan, 
Terserah...siapa yang akan menghamba padanya
Kekuasaannya telah terbagi, tanpa engkau sadari
Menghamba kepada salah satunya
Hanya akan membuatmu rugi

Pengaruh dua raja itu begitu kuat
Mereka ada, bersamaan dengan manusia,
Saat mereka diturunkan kedunia
Seharusnya mereka dapat menahan
Sehingga tidak menjadi salah satu hamba mereka
Ataupun hamba keduanya...
Tapi semua tergantung bagaimana mereka mencari

Raja yang pertama, berkuasa akan harta
Dan gemerlapnya dunia
Lihatlah kemana hatimu menghamba
Sifat bakil, kikir, rakus dan gila harta
Adalah ciri - cirinya...
Siapa yang menghamba padanya
Dapat dilihat kemana arah hatinya bermuara
Yang kau butuhkan untuk melawannya 
Hanyalah ketulusan dan keikhlasanmu dalam memberi

Raja yang kedua, berkuasa atas hawa nafsu
Lihat bagaimana engkau memanjakan keinginanmu
Akan lebih baik bila kau mampu menahan
Semua keinginan, saat dia mencoba keluar
Kesombongan, amarah dan benci 
Adalah salah satu sifat yang menjadi ciri
Sebaik - baik manusia adalah yang mampu menahan
Dan diam mungkin menjadi jawaban

Dua raja itu tak saling berperang
Hanya akan bertahta di dada manusia dengan tenang
Pengaruhnya yang kuat pada dirimu
Membuat lamanya berkuasa tak terhitung waktu
Manusia mungkin telah lama lupa 
Kepada siapa dia seharusnya menghamba
Kecuali mereka yang benar-benar ingin mencari
Raja yang sesungguhnya
Yang kepadaNya mereka telah mengambil Janji

Hati ibarat singgasana....
Kepada raja yang mana engkau mempersiapkannya
Bersihkanlah hatimu dari segala tipu daya
Maka engkau akan menyadari
Telah menghamba kepada siapa selama ini
Aku tahu, bisikan kedua raja itu telah membuatmu ragu
Kepada jalan lurus yang seharusnya kau tuju
Lepaskanlah hatimu dari cengkraman mereka
Karena hanya boleh ada satu raja yang bertahta

Katakanlah...
Aku berlindung kepada Tuhan manusia
Raja manusia, Sembahan manusia
Yang kepadaNyalah harusnya aku menghamba
Aku berlindung dari bisikan yang biasa bersembunyi
Yang membisikkan kejahatan didada manusia
Yang membuat aku terlupa
Kepada Raja yang sesungguhnya
Raja...yang seharusnya menempati hati

Thursday, May 14, 2020

Jangan Ada Rahasia

Mencoba menyelami rahasiaku sendiri
Jangan ada rahasia, adalah kunci mengenal diri
Yang dibutuhkan adalah sikap menerima
Karena kebenarannya, akan pait terasa
Rahasia yang tersimpan harus kukeluarkan
Dan untuk mengungkapnya, dibutuhkan keberanian

Apakah kamu tahu rahasia itu...
Rahasia yang ada, tapi tak pernah ku akui
Rahasia yang menghalangiku, menuju Mu
Ya...rahasia itu, rahasia yang selalu kututupi
Dan setiap manusia pasti punya
Tapi anehnya, mereka tak pernah merasa...

Rahasiaku adalah semua sifat yang tidak kamu suka 
Bahkan oleh diriku sendiri, setidaknya itu yang kurasa
Sifat yang aku takut bila orang lain akan mengetahui
Sehingga harus kusembunyikan mati-matian
Sekedar senang adalah keinginan
Dan lihatlah bagaimana rahasia itu tersimpan

Aku menguncinya dalam segala bentuk pujian manusia
Karena sanjungan membuatku merasa sempurna
Keburukan sifat itu seakan tak nampak pada diri
Sombong, kikir, tamak, iri bahkan dengki
Penyakit-penyakit hati itu yang selalu bersembuyi
Yang keberadaannya tak pernah kuanggap
Mungkin memang sudah saatnya bila kuungkap

Entah dari mana harusnya kumulai
Mengenal sifat buruk yang telah lama mengotori hati
Sehingga tak akan lagi ada rahasia, 
Agar kesejatian itu terasa nyata
Aku akan mulai bercermin pada orang yang kubenci
Yang sifat buruk mereka sempat melukai nurani
Tidakkah mereka sadar bahwa sifat itu ada
Ataukah hanya aku yang dapat melihatnya

Perenungan itu kemudian membuat aku tersadar
Bagaimana jika mereka juga melihat 
Sifat buruk ku yang terkunci rapat
Merasa benar adalah akar dari kesombongan
Mungkin karena itulah mata dan hatiku telah dibutakan
Apakah itu mungkin terjadi...
Bila iya, lalu aku harus bagaimana...
Dan terkadang dengan merenung sejenak 
Dapat membukakan mata hati yang terkunci

Seharusnya aku tak lagi menduga-duga
Berprasangka buruk seakan aku ini tanpa cela
Akan kulihat kejelekanku pada diri mereka
Sehingga ada rasa malu 
Saat aku mulai membicarakannya
Kini aku tak lagi dapat melihat keburukan 
Yang ada pada setiap orang
Yang aku lihat pada mereka,
Hanyalah pantulan keburukanku sendiri
Dan kini aku tahu, Bagaimana cermin hati itu berfungsi

Tak ada rahasia, bila tak ada lagi yang ditutup-tutupi
Mengetahui penyakit hati yang kau punya adalah jawaban
Setidaknya saat ini, hatiku tak lagi menanggung beban
Dan tak lagi perduli dengan bagaimana orang mencela
Karena penyakit  itu, aku telah menyadarinya
Bila kau ungkapkan, aku tak akan terkejut
Karena rasa itu, tak lagi membuat aku takut

Sekarang lihatlah bagaimana aku berjalan
Setiap langkah kaki bahkan terasa ringan
Hanya dengan menyadari penyakit hati yang kusimpan
Membuatku jiwaku merasa nyaman
Setidaknya aku mengetahui bagaimana harus menahan
Menahan keinginan supaya dapat kukalahkan
Disitulah aku temukan makna dari perjuangan

Mengetahui penyakit hati adalah obat
Karena aku yakin tidak ada kata terlambat
Penyakit hati adalah rahasia yang tersimpan di dalam
Bila tak kau keluarkan, 
Maka sulit bila kau ingin temukan terang
Karena mereka harus lebih dulu mengetahui
Bahwa penyakit hati itu, yang membuatmu lupa diri
Tak lagi ada rahasia, adalah obat bagi Jiwa
Karena Tuhan, tak akan memasuki hati yang penuh luka


Tuesday, April 7, 2020

Rasa Yang Harus Ada

Kau berikan aku sebuah Istana
Istana yang megah, Indah seperti istana para raja
Orang yang melihat akan terkesima dan takjub
Hanya memandangnya saja tak akan pernah cukup
Dari rasa tulus Ikhlas dan tawadhu istana itu terbuat
Dan katanya tak luput juga dari hukum sebab akibat

Ku coba mencari tahu, 
Apa yang sebenarnya menjadi alasan
Mengapa Istana semegah itu 
Diberikan padaku tanpa beban
Rasanya tak pantas 
Bila hanya aku yang berhak menerima
Istana yang sepantasnya untuk para raja
Diberikan kepada ku, yang hanyalah seorang hamba

Kembali menyelami masa lalu, 
hanya untuk mencari tahu, adakah padaku 
Rasa tulus ikhlas dan tawadhu' itu
Alasan yang aku sendiri telah lupa
Perbuatan yang tak lagi aku bisa mengingatnya

Bagiku mungkin tak penting...
Tapi bagi orang lain, ingatan itu akan sangat berharga
Setidaknya mereka tak perlu lagi mengira-ngira
Bagaimana cara bisa sampai menuju kesana
Memiliki Istana para raja, adalah impian para hamba

Mungkin yang bisa aku jelaskan hanyalah sekedar teori
Agar bisa engkau terapkan dikehidupan sehari-hari
Karena yang dibutuhkan adalah wujud nyata
Hanya dengan itu amal bisa diterima

Tulus itu tak dapat kau raba
Karena dia terdapat jauh dihati yang terdalam
Salah satu alasan mengapa setiap niat tercipta
Dan niat adalah awal dari segala tindakan bermula
Tulus itu niat yang tanpa alasan
Keinginan yang tanpa sebab
Dorongan yang hanya bermodalkan keyakinan
Yakin bahwa Tuhan itu Maha Kaya
Bukan karena supaya ini atau itu
Bukan pula karena tujuan tertentu
Hanya yakin saja, bahwa Tuhan itu Maha Tau

Ikhlas adalah niat baik yang berwujud nyata
Tak lagi kau simpan didada
Tapi sesuatu yang berharga,
Yang kau keluarkan dari dirimu, dengan penuh kerelaan
Tak pernah kau tunda-tunda, 
setiap niat baik yang tercipta
Selalu kau wujudkan dengan segera, tanpa beban
Karena menahannya akan sangat memalukan

Sedangkan Tawadhu adalah inti dari segala rasa
Tak pernah takut dan terpengaruh 
dengan setiap penilaian orang
Karena harga diri bukanlah ukuran
Kerendahan dan tiadanya kesombongan dihadapan Raja
Memang sudah sepatutnya
Bilamana kau anggap dirimu, hanyalah seorang hamba
Tak perlu kau nilai tinggi harga dirimu
Karena yang kau jual sebenarnya bukanlah milikmu
Dirimu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pencipta
Biarlah Dia yang menilai berapapun harganya
Maka tidak sepatutnya sombong itu bersemayam dihati setiap manusia

Begitulah caraku menjelaskan
Semoga bisa menjadi bahan perenungan
Walaupun hanya sekedar teori
Tapi itulah yang kuyakini
Wujud nyata adalah kunci dari semua
Tak bisa hanya dengan kata-kata yang besar
Yang diperlukan hanyalah kepasrahan serta keyakinan
Jangan pernah ada keraguan walau sedikit
Karena rasa itu hanya akan mempersulit

Tuesday, March 31, 2020

Permulaan Zaman Penghabisan

Musik penyambutan itu telah berkumandang
Angin telah bertiup...
Dan nafas telah dihembuskan
Inilah tanda awal sebuah zaman
Permulaan zaman penghabisan

Kabut telah muncul, tanpa engkau sadar
Tak adakah yang bisa melihat...
Ketika kabut ketakutan itu menyelimuti manusia
Dan bahkan membunuh utusan yang Mulia
Nur kholis adalah rasa tentram yang ada didada

Periksalah hatimu, masih adakah rasa sentosa
Yang akan kau temukan hanyalah 
Kecemasan yang tak semestinya
Pengharapan yang hampa
Berharap pada benda...
Tunggulah, bagaimana semuanya akan jadi sia-sia

Inilah awal kelahiran sang pendusta
Sang pembuat segala tipu daya dan kekacauan
Kelahirannya menggemparkan Dunia
Dan bahkan Jagat Raya
Disambut dengan tangisan dan kesedihan
Karena sesungguhnya itulah yang dia bawa

Tapi...tak usah takut, 
Karena Sang Maha Kuasa punya rencana
Bersama kelahiran sang pendusta, 
Dia turunkan seorang utusan juga
Yang akan membawa cahaya penerang
Ketika semua manusia dilanda ketakutan
Penunjuk kepada jalan yang lurus
Sebagai pengabulan doa, yang selalu engkau pinta
Maka...ikutilah Dia

Cobaan akhir zaman akan sedikit pedih
Aku khawatir kau akan jadi orang yang tersisih
Nalarmu akan dengan mudah menerima setiap kata
Dan percaya pada Tuhan bisa menjadi bencana
Karena zaman ini merupakan ujian
Ujian keimanan bagi orang-orang yang percaya

Kuatkan niat, tekat dan nekat...
Karena memilih untuk mundur, sudah terlambat
Sekarang bukan saatnya bermain-main
Menganggap dunia ini tak akan berakhir
Bersyukurlah kita dapat bocoran rahasia
Yang taruhannya sendiri adalah nyawa
Tapi tak perlu gentar
Bersama-sama mari kita jaga
Agar cahaya itu tetap berpijar
Cahaya Ketuhanan penerang jagat
Dan semoga kita termasuk 
Orang-orang yang mendapat Rahmat

Sunday, March 29, 2020

Tahukah Kamu

Tahukah kamu
Bahwa takdir ini kubuat sendiri
Karena disetiap akibat,
Selalu ada sebab...
Dan saat ini, 
itu yang kuyakini

Diantara kemuliaan menjadi manusia adalah
Kebebasanku untuk memilih 
Hidup semau-mauku...
Untuk waktu yang sebentar
Aku belajar menjadi Tuhan
Dan dalam setiap pilihan yang terlahir
Aku ikut andil, dalam menulis takdir

Maka tak usah terlalu sedih
atas apa yang tak sesuai harapan
Anggap saja waktu itu, kau salah menentukan pilihan
Jangan terlalu menyalahkan waktu yang telah berlalu
berandai-andai, seandainya aku begini atau begitu
Antara baik atau buruk, benar atau salah
Hati kadang tak begitu mengerti...
Maka ajarilah hatimu, untuk mengingat sesuatu
Yang sengaja terlupa, saat kau terlahir kedunia

Kini baru aku paham
mengapa doa ini selalu ku panjatkan
yaitu saat Kau ajarkan aku berucap...
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, 
yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan mereka yang dimurkai 
dan bukan pula jalan mereka yang sesat"

Dalam setiap pilihan yang ku ambil
Kau buat aku berfikir, akan adanya pengharapan
pilihan jalan yang sesuai kriteria Mu, 
bukan sesuai keinginanku...
Tapi....bagaimana kami bisa tahu
Saat kami hanya diam
Dan tak ada keinginan untuk belajar...

Setiap baik atau buruk kehidupanku
Tak seluruhnya kusandarkan kepadaMu...
Sekarang aku telah menyadari
Semua yang terjadi, berjalan sesuai pilihan
Tak selayaknya kusalahkan takdir
Menganggap semuanya telah terukir
Padahal Kau selalu sediakan penghapus
Untuk harapanku yang telah pupus

Biarlah kutulis ulang, lembaran baru kehidupan
Memahami sedikit demi sedikit
Berjalan beriringan, setidaknya menyenangkan
Saling berbagi pemahaman tentang masa depan
Jalan menuju kenikmatan, harus ada yang dikorbankan
Akan kukorbankan setiap keinginanku
Kebebasanku dalam memilih,
dan keinginanku menjadi sepertiMu
Dalam setiap langkah, ku kan coba mengalah
Agar tak salah arah, dalam ku melangkah