Thursday, July 30, 2020

Berkorbanlah Karena Tuhanmu

Disinilah Kita, yang berada di penghujung suatu jaman
Dan waktu sendiri yang telah menyampaikan kita 
Kepada salah satu bulan yang dimuliakan
Suatu bulan yang penuh keagungan
Maka berkorbanlah karena Tuhanmu

Semoga pada bulan besar ini
Tuhan selalu menurunkan rahmatnya
Sehingga kita mampu dengan kesungguhan hati
Menyikapi setiap keadaan dengan iman
Maka berkorbanlah hanya karena Tuhanmu

Berkorbanlah karena Tuhanmu
Dan sampaikanlah rasa terima kasih itu
Persembahkanlah dengan apa yang kau punya
Jangan berkorban hanya karena kita diingatkan
Dihimbau, dianjurkan bahkan karena tuntunan
Berkorbanlah dengan hatimu atas dasar keimanan

Jangan pernah mengharapkan pujian manusia
Atas semua yang telah engkau persembahkan
Atau semua pengorbananmu akan sia-sia
Kesenangan didunia ini tidaklah lama
Aku heran, begitu senangnya mereka
dengan segala macam penghormatan yang ada

Mengingat-ingat setiap amal kebaikan
Itulah yang selama ini engkau lakukan
Dengan harapan mendapatkan balasan yang besar
Kau kira Tuhanmu itu pelupa...
Dimana sebenarnya kau letakkan keyakinanmu itu
Justru amal yang tak lagi kau ingat, Itulah yang dicatat
Dan menjadi salah satu sebab turunnya rahmat

Alangkah baiknya bila engkau menjadi seorang pelupa
Sehingga amal itu tak lagi tersimpan didada
Biarlah Tuhan sendiri yang mengingatnya
Karena disitulah letak iman yang sesungguhnya
Percaya dan yakin bahwa Tuhan itu maha kaya
Mengabdi dengan sepenuh hati
Menghamba dengan merendahkan diri

Jalanilah kehidupanmu dengan rasa percaya
Siap menerjang semua yang menghadang
Tak perduli derita atau senang yang kan kau temui
Semua akan sama saja, bila iman telah kau punya
Renungkanlah lagi, 
atas dasar apa kita menjalani kehidupan ini
Hanya sekedar menuruti keinginan
Atau benar-benar atas dasar keimanan

Jiwa - Jiwa yang Kotor

Jangan meremehkan kebaikan walau sedikit
Bisa jadi kebaikan yang tak lagi kau ingat
Menjadi penyebab turunnya rahmat
Rahmat itu sama dengan belas kasih 
Yang kau dapatkan dari caramu berterima kasih

Kemudahan dalam segala urusan 
adalah salah satu balasan
Pertolongan yang tiada disangka-sangka
Tak perlu kau mengira-ngira kapan dia datang

Dan kebanyakan kita, tak akan pernah sadar
Bila yang selalu kita harapkan
Suatu balasan yang berwujud
Bukan hanya sekedar rasa
Padahal, hanya rasa yang bisa menetap di jiwa
Sedangkan wujud hanya akan menyenangkan 
orang-orang yang melihatnya

Memang begitulah sifat manusia 
Begitu inginnya mereka dipuja-puja
Dengan begitu mereka akan merasa sempurna
Dan keberadaannya didunia seakan lebih dihargai
Berharga didunia yang fana ini

Tapi bila mereka benar-benar mengetahui,
harga dunia yang sesungguhnya
Aku yakin, hati mereka akan berkecamuk
Karena sesungguhnya dunia ini 
tidak lebih berharga dari sayap seekor nyamuk
Tapi menyesal, sudah tak ada guna
Bila sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa

Jadi cepat-cepatlah berubah pikiran
Mengingat kita masih diberi kesempatan
Manfaatkanlah sebisanya, segala sumber daya
Sekarang bukan saatnya mengira-ngira
Berlarilah bila memang keyakinan itu sudah kau pegang
Atau kau akan tertingal jauh di belakang

Lihatlah manusia, 
Bagaimana mereka memperlakukan sebuah jiwa
Mengotorinya tanpa pernah merasa
Dengan mudahnya mereka mengorbankan hati
Perbuatan yang bahkan tidak pernah mereka sadari
Berdampak pada jiwanya, jiwa-jiwa yang penuh luka

Selama ini, yang mereka perbaiki hanya jasadnya saja
Sedangkan yang tersimpan didalam, 
Tidak pernah mereka perhatikan
Tak tahukah mereka, 
bahwa didalam jasad manusia, ada segumpal daging
Bila ia baik, Maka baik pula seluruh jasad
Dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruhnya

Segumpal daging itulah hati
Perlakukanlah dia dengan sangat hati-hati
Jangan kau masukkan setiap apa yang kau lihat
Kau dengar dan kau ucapkan
Bahkan dengan setiap perbuatanmu sehari-hari
Rawatlah dia, agar terjaga kesuciannya
Supaya jiwa itu tetap tenang
Tidak terpengaruh dengan setiap keinginan
Sampai nanti tiba waktunya berpulang

Jiwa-jiwa yang kotor
Begitulah kita, saat menginjakkan kaki didunia
Manusia tak akan pernah luput dari dosa
Oleh karenanya, jangan pernah merasa suci
Karena hanya Tuhanlah yang maha suci

Kita hanyalah jiwa-jiwa yang sedang mencari
Mencari jalan untuk membersihkan diri
Sehingga layak untuk dipandang olehNya
Tuhan pemilik segala kemuliaan
Oleh karena itu, jangan dengan mudah menyalah-nyalahkan
Salahkanlah dirimu sendiri
Yang sejak awal sudah tak perduli

Kau masukkan semua urusan dunia ke hatimu
tanpa sempat kau pilah-pilah terlebih dahulu
Antara baik dan buruk hampir tak ada beda
Atau mungkin karena hatimu sudah tak bisa merasa

Memang benar hati itu seluas samudra
Tapi bila yang satu masuk, yang lain akan keluar
Seakan hati itu, tidak mau diduakan
Selalu berprasangka baik adalah sebuah jawaban
Untuk sekedar meredam keragu-raguan dihatimu
Sehingga meringankan langkahmu untuk terus maju

Jangan mudah berprasangka buruk, 
Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk
Membuatmu terdiam lama, 
Dan hanya membuang-buang waktu saja
Ketahuilah bahwa Tuhan itu sesuai prasangka hamba-hambanya
Maka dari itu, berprasangkalah yang baik-baik
Karena kebaikan pulalah yang akan engkau terima

Lihatlah selalu,
apa yang kau masukkan kedalam hatimu
Haus akan pujian manusia telah membuatmu lupa
Amal kebaikanmu itu kau persembahkan kepada siapa
selama ini semua yang telah engkau korbankan
Hanyalah sekedar menuruti keinginan
Supaya engkau dipandang mulia, 
oleh manusia-manusia yang lainnya

Tanpa sadar engkau telah mengorbankan kesucian hati
Karena itu kau sudah tak lagi perduli
Semua amal yang telah kau lakukan 
Tak ubahnya seperti fatamorgana 
Dalam pandanganmu dia yang seakan-akan ada
Lenyap tak dianggap, bukankah itu suatu kerugian
sia-sialah sudah, apa yang selama ini telah engkau usahakan

Tidakkah kau mengerti, untuk apa jiwa itu tercipta
Sebuah Jiwa itu tercipta hanya untuk mengabdi
Mengabdi kepada Tuhan yang maha tinggi

Friday, July 17, 2020

Golongan - Golongan Manusia

Dunia ini adalah tempatnya tipu daya
Tujuan yang semula satu terbagi menjadi beberapa
Begitu juga pandangan mereka tentang apa yang benar
Kebenaran itu ada tiga, bila kau bertanya
Kebenaran menurutmu
Kebenaran menurut mereka
Dan kebenaran menurutNya
Renungkanlah kau ikut yang mana

Dalam beberapa golongan, manusia itu terbagi
Tergantung pada seberapa besar kita mencari
Memaksakan kehendak tak akan bisa
Walau berbagai macam pemahaman telah kau sampaikan
Karena manusia hanya akan memilih apa yang mereka cintai

Begitulah sifat dunia, tempat yang melalaikan
Agar kau lupa pada tujuan awal sebuah penciptaan
Tidakkah mereka ingat sebelum itu telah mengambil sumpah
Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang patut disembah

Hati laksana sebuah bejana
Periksalah apa yang kau masukkan kedalamnya
Karena hati mengikuti tabiat manusia
Satu dan lainnya tak akan pernah sama
Oleh karenanya, manusia akan selalu mencari
Mereka yang satu tujuan dan satu kesenangan
begitulah awal mengapa mereka terbagi 
menjadi bergolongan-golongan

Golongan pertama adalah mereka yang percaya
Bahwa percaya dan yakin itu harus menerima
Suka atau tidak memang begitulah adanya
Bila kebenaran itu telah menyentuh dijiwa
Pasrah dan sabar menjadi pegangan
Untuk melaksanakan apa yang diperintahkan
Tidak ada lagi ke aku'an
Karena itu hanya akan menghasilkan penolakan

Golongan kedua adalah golongan mereka yang enggan
Percaya dan yakin tak sampai masuk hati
Karena akal mereka selalu menghalangi
Seperti orang yang tidak punya pendirian
Kepada siapa dan apa yang seharusnya mereka yakini
Sangat suka memilah-milah suatu perintah
Bila senang akan mereka lakukan
Bila susah mereka jauhi
Bukan tidak meyakini kebenaran apabila telah datang
mereka sudah tahu, hanya saja mereka enggan
Untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar
Seakan kebenaran itu sebuah lelucon yang disaksikan
Menentukan seenak hati, sesuai keinginan

Golongan ketiga adalah golongan orang-orang yang sesat
Mereka tak berkeyakinan bahwa dunia ini hanya sesaat
Tak perduli tentang adanya tempat kembali
Karena dunia sudah terlalu mereka cintai
Mengumbar keinginan, menuhankan akal
Semua harus sesuai hitungan matematika
Bila tidak dapat dilogika, tak akan mereka terima
Tak perlu kau paksakan kebenaran pada golongan ini
Cukup sampaikan, lalu tinggalkan
Atau keyakinanmu akan Tuhan akan tergantikan

Sunday, July 12, 2020

Sombong Yang Membinasakan

Akan ku ceritakan padamu sebuah kisah
Tentang perjalanan seorang ahli ibadah
Ribuan tahun memuji Tuhannya tanpa mengenal lelah 
Para malaikatpun berdecak kagum,
Lihatlah, begitu sempurnanya dia dalam menyembah

Kemudian Tuhan bersabda
Masukkanlah dia kedalam surga karena rahmatKu
Karena begitu setianya dia dalam menunggu
Masukilah dari pintu mana saja yang kau kehendaki
Begitulah balasan, kepada hamba-hambaKu yang berbakti

Dengan lembut diapun menjawab...
Wahai sang maha bijaksana, maaf hamba tidak bisa
Setidaknya masukkanlah aku, 
karena amal yang kupunya
Tidakkah Engkau maha melihat hambaMu ini
Bagaimana siang malam aku telah mengabdi

Wahai hambaKu yang Kurahmati
Apakah keadilanKu yang kau ragukan
Sedangkan engkaupun menyembahku tanpa beban
Baiklah bila itu yang kau minta
Aku akan memasukkanmu kedalam neraka
Karena amalmu yang tak seberapa 
Bila dibandingkan dengan rahmat yang Ku punya

Tuhan, apakah ini yang Engkau namakan keadilan
Begitu mudahnya Engkau dalam memutuskan
Sia-sialah apa yang telah ku usahakan selama ini
Setidaknya berikanlah alasan yang dapat kupahami
Agar bisa kubuat pegangan, 
bila Kau berkenan memberi kesempatan

Wahai hambaKu, tidakkah kau merasakan belas kasihKu
Siang malam engkau memuji, kau kira Aku tidak tahu
Katakan dari mana semua kekuatan itu berasal
Sedangkan engkaupun Aku yang menciptakan
Aku berikan kesehatan dan rasa senang
Lalu, nikmatKu yang mana yang engkau dustakan

Kuhilangkan darimu rasa resah, gundah dan gelisah
Agar kau bisa dengan tenang beribadah
Kuturunkan hujan sebagai berkah
Kuciptakan makanan agar engkau menjadi kenyang
Katakan, nikmat mana lagi yang engkau dustakan
Apakah engkau benar-benar sudah memikirkan

Yang sebenarnya engkau miliki hanyalah hawa nafsu
Sedangkan semua yang ada padamu adalah milikKu
Rahmat yang Kuberikan memang sulit untuk kau lihat
Tapi bukan berarti tidak ada yang Aku perbuat
Kau kira dengan amalmu itu dapat memuliakan Aku
Aku ini sang maha mulia, apakah kau lupa sifat-sifat yang Ku punya

Begitulah awal kisah sang ahli ibadah
Dia menyesali apa yang telah terucap, 
hingga Tuhan berkenan menerima taubat,
dan memasukkannya ke surga yang penuh nikmat
Disana dia bahkan menjadi panglima
Diantara para malaikat yang berhati mulia
Tapi, setitik kesombongan itu tetap melekat didada
Dan adalah Tuhan sang maha berencana
Dari kata Balasa yang artinya, dia yang menyesal
Iblis begitulah panggilan nama yang diberikan

Lalu Tuhan pun berkehendak 
Dia berkeinginan mengangkat seorang kalifah di bumi
Ditawarkannya kepada lautan dan gunung-gunung tinggi
Tapi tidak ada dari mereka yang berani
Karena memikul amanah adalah sesuatu yang berat
Setidaknya begitu yang mereka yakini

Tuhanpun menciptakan sesuatu yang baru
Karena segala rahasia hanya Dia yang tahu
Dari saripati tanah, mahkluk ini berasal
Dari lumpur yang hina, begitulah dia tercipta
Lalu malaikatpun berkata, 
Wahai Tuhan yang maha mulia
Tidak cukupkah kami yang selalu memuji-muji
Mengapa Engkau menciptakan Mahkluk yang akan membuat kerusakan dimuka bumi
Dan menumpahkan darah, ditempatMu yang suci
Tuhan berkata, Sesungguhnya Aku mengetahui,
apa yang tidak kamu ketahui

Kemudian jadilah dia seorang manusia, 
dan Adam adalah sebutan yang disandangnya
Diajarkannya segala macam pengetahuan
Nama-nama yang tidak seorang mahklukpun paham
Rahasianya ada di hati, bila kau bertanya
Karena hanya disitulah Tuhan dapat bersemayam
Wahai semua mahkluk, 
sujudlah kepada ciptaanKu yang mulia
Karena dialah yang telah Aku tunjuk
Laksanakan perintah, karena Aku telah bertitah
Dan Aku tak ingin seorangpun dari kalian yang membantah

Lalu Sujudlah para malaikat dan mahkluk seluruhnya
Karena titah sang Raja sudah selayaknya dituruti
Dengan begitu, engkau akan dianggap sebagai orang-orang yang berbakti
Tapi tidak dengan dia, yang penyesalannya hanya sebatas kata
Dia tidak mau sujud kepada seorang manusia
Mahkluk yang dia anggap lebih rendah dalam hal kedudukan
Dan sekarang engkau dapat melihat, 
bagaimana setitik kesombongan itu dapat membinasakan

Wahai iblis, apa yang menghalangimu melaksanakan perintahKu
Berikanlah alasan, karena Aku hanya akan menghukum dengan keadilan
Wahai sang maha adil, aku tak pernah habis pikir
Kau ciptakan aku dari api yang suci
Dan Kau ciptakan dia dari tanah yang hina
Tapi mengapa Engkau masih tetap memilihnya
Apakah ibadahku selama ini tak pernah Engkau anggap
Sedangkan dia yang baru tercipta sudah Kau beri nikmat

Sesungguhnya setitik kesombongan didadamu itu yang telah membuatmu buta
Pemicu dari sifat iri dan dengki yang kini kau punya
Tidak tahukah engkau bahwa Aku ini sang maha suci
Mengapa kesombongan itu masih saja engkau bawa
Aku tidak lain hanya ingin menguji
Akankah engkau menyembahKu dengan setulus hati
Dan apakah engkau masih saja merasa,
Bahwa engkaulah yang lebih mulia dari mereka

Keluarlah engkau dari surgaKu ini
Karena syarat memasukinya, hanya dengan merendahkan diri
Kesombongan telah membuatmu lupa
Berapapun banyaknya amal yang kau lakukan
Tidak akan pernah Aku terima
Jika masih ada sedikit saja kesombongan itu bersemayam di dalam dada

Wahai Tuhan, 
tangguhkanlah hidupku 
sampai waktu yang Kau tentukan
Lihatlah bagaimana aku akan menyesatkan mereka
manusia-manusia yang Engkau telah muliakan
Akan kuhancurkan keyakinan mereka kepadaMu
Sebagaimana mereka telah memupuskan harapanku
Akan kubuat mereka lupa, kepada siapa mereka harusnya menghamba

Wahai iblis,
Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang ditangguhkan
Tapi ingat, tak akan ada jalan kembali
Penghianatanmu kepadaKu tak dapat terampuni
Dan siksa neraka adalah tempatmu yang abadi
Tak akan lagi Ku terima tobat
Karena engkau sudah terlanjur berucap
Engkau hanya dapat menyesatkan 
mereka-mereka yang tak dapat merasa
Oleh karena hati mereka yang buta
Karena sesungguhnya 
Akulah Tuhan yang maha melihat hambaNya

Wahai manusia,
Belajarlah dari masa lalu
Begitulah kesombongan akan membinasakanmu
Ingat-ingatlah didalam hati
Bahwa hanya Tuhanlah yang maha suci
Kesombongan jangan kau pendam terlalu lama
Karena itu hanya akan membuatmu lupa
Kepada siapa engkau seharusnya menghamba
Ketahuilah Surga hanya untuk mereka 
yang merendahkan diri dihadapan Tuhannya
Ingat-ingatlah bila kau benar-benar ingin memasukinya
Semoga kisah ini bisa engkau jadikan pelajaran
Sebagai bekal dalam perjalananmu pulang
Bersihkanlah hati, bersihkanlah hati
Karena disitu, ada rahasia yang tersimpan

Friday, July 3, 2020

Setengah dari Tujuan

Hanya sebatas itu saja sebenarnya
Bahagia itu, sudah terasa
Tak terlihat mata memang
Tapi bahagia yang kurasakan, 
tak mungkin hanya sekedar angan

Benar-benar terasa, 
sampai ke dada...
Ibarat kerinduan yang telah menemukan cinta
Obat bagi hati yang letih...
Untuk kami yang berjalan tertatih

Apakah ini yang dinamakan rahmat semesta
Perasaan senang yang tiba-tiba ada
Seakan rasa gundah itu terlupakan
Hanya mendengar suaramu saja, 
Kami senang...

Duhai kekasih hati...
Mengapa engkau tak pernah menetap lama
Mungkin jiwa ini yang terlalu malu
Bila berlama-lama menatap wajahmu

Ajarilah kami, bagaimana cara berterima kasih
Untuk setiap pertolonganmu dan belas kasih
Cara yang engkau harapkan mungkin tak sama
Karena selama ini,  kami masih mengira-ngira

Kadang kami tidak pernah sadar
Pemberianmu lebih dari yang dapat kami bayangkan
Selama ini kami menilainya dari yang nampak saja
Sedangkan yang tersembunyi, 
Tak terhitung jumlahnya

Tapi apa yang kami persembahkan,
Hanya sebatas kemampuan, dan kadang alakadarnya
Tak pernah kami memaksakan lebih, 
Padahal kami telah mentasbihkan diri sebagai orang-orang yang yakin, 
yakin bahwasanya engkaulah yang terpilih

Membayangkan bila engkau datang sebagai raja
Pasti kami akan mempersembahkan seluruh jiwa raga
Tapi engkau datang sebagai manusia biasa
Yang hanya dipandang orang sebelah mata

Begitu memalukan memang
Bagaimana kami memperlakukan seorang utusan Tuhan
Yang terpikirkan hanyalah perut kami sendiri
Sedangkan saat engkau menahan lapar, 
kami bahkan tak perduli

Begitu banyak pertolongan yang telah engkau berikan
Dan kami menerimanya saja tanpa beban
Seakan mengingatmu hanya saat dibutuhkan
Setelahnya, hanya tinggal kenangan

Wahai sang utusan
Begitu beratnya amanat yang engkau emban
Sedangkan memohon kepada Tuhan untuk sekedar kebutuhanmu, engkau malu
Dan kami, tak pernah begitu perduli

Manusia seperti apakah kami ini
Memperlakukan kesayangan Tuhan seenak hati
Padahal engkau telah merubah kami laksana mutiara
Usahamu yang tidak benar-benar kami hargai

Wahai pujaan jiwa
Apakah kami benar-benar telah buta
Raga yang letih tapi tak pernah lelah engkau berdoa
Mendoakan kami dan seluruh keluarga
Agar dapat melewati cobaan hidup yang tak sewajarnya

Benar-benar memalukan
Saat kami masih bisa bernafas dengan bebas
Saat kami punya kesempatan dan kami mampu
Tapi tidak dengan segera mengabdi padamu

Wahai manusia, ingat-ingatlah waktu
Dan tanamkanlah didalam kalbu
Belajar berterima kasih adalah setengah dari tujuan
Apalagi yang kau kejar, 
Bila kau benar-benar ingin belajar

Wujud nyata sebagai bukti
Bila kau memang ingin berbakti
Dan setiap apa yang kau yakini itu harus diuji
Agar tidak hanya sekedar kata-kata belaka
Karena sesungguhnya Tuhan maha melihat hambanya