Hanya sebatas itu saja sebenarnya
Bahagia itu, sudah terasa
Tak terlihat mata memang
Tapi bahagia yang kurasakan,
tak mungkin hanya sekedar angan
Benar-benar terasa,
sampai ke dada...
Ibarat kerinduan yang telah menemukan cinta
Obat bagi hati yang letih...
Untuk kami yang berjalan tertatih
Apakah ini yang dinamakan rahmat semesta
Perasaan senang yang tiba-tiba ada
Seakan rasa gundah itu terlupakan
Hanya mendengar suaramu saja,
Kami senang...
Duhai kekasih hati...
Mengapa engkau tak pernah menetap lama
Mungkin jiwa ini yang terlalu malu
Bila berlama-lama menatap wajahmu
Ajarilah kami, bagaimana cara berterima kasih
Untuk setiap pertolonganmu dan belas kasih
Cara yang engkau harapkan mungkin tak sama
Karena selama ini, kami masih mengira-ngira
Kadang kami tidak pernah sadar
Pemberianmu lebih dari yang dapat kami bayangkan
Selama ini kami menilainya dari yang nampak saja
Sedangkan yang tersembunyi,
Tak terhitung jumlahnya
Tapi apa yang kami persembahkan,
Hanya sebatas kemampuan, dan kadang alakadarnya
Tak pernah kami memaksakan lebih,
Padahal kami telah mentasbihkan diri sebagai orang-orang yang yakin,
yakin bahwasanya engkaulah yang terpilih
Membayangkan bila engkau datang sebagai raja
Pasti kami akan mempersembahkan seluruh jiwa raga
Tapi engkau datang sebagai manusia biasa
Yang hanya dipandang orang sebelah mata
Begitu memalukan memang
Bagaimana kami memperlakukan seorang utusan Tuhan
Yang terpikirkan hanyalah perut kami sendiri
Sedangkan saat engkau menahan lapar,
kami bahkan tak perduli
Begitu banyak pertolongan yang telah engkau berikan
Dan kami menerimanya saja tanpa beban
Seakan mengingatmu hanya saat dibutuhkan
Setelahnya, hanya tinggal kenangan
Wahai sang utusan
Begitu beratnya amanat yang engkau emban
Sedangkan memohon kepada Tuhan untuk sekedar kebutuhanmu, engkau malu
Dan kami, tak pernah begitu perduli
Manusia seperti apakah kami ini
Memperlakukan kesayangan Tuhan seenak hati
Padahal engkau telah merubah kami laksana mutiara
Usahamu yang tidak benar-benar kami hargai
Wahai pujaan jiwa
Apakah kami benar-benar telah buta
Raga yang letih tapi tak pernah lelah engkau berdoa
Mendoakan kami dan seluruh keluarga
Agar dapat melewati cobaan hidup yang tak sewajarnya
Benar-benar memalukan
Saat kami masih bisa bernafas dengan bebas
Saat kami punya kesempatan dan kami mampu
Tapi tidak dengan segera mengabdi padamu
Wahai manusia, ingat-ingatlah waktu
Dan tanamkanlah didalam kalbu
Belajar berterima kasih adalah setengah dari tujuan
Apalagi yang kau kejar,
Bila kau benar-benar ingin belajar
Wujud nyata sebagai bukti
Bila kau memang ingin berbakti
Dan setiap apa yang kau yakini itu harus diuji
Agar tidak hanya sekedar kata-kata belaka
Karena sesungguhnya Tuhan maha melihat hambanya
No comments:
Post a Comment